Karya Yang Diakui Dari Memanfaatkan Kamera Seadanya

Ketika Warga Jadi Pewarta Foto (1)

Karya Yang Diakui Dari Memanfaatkan Kamera Seadanya

Astrid Septriana - detikHot
Senin, 16 Sep 2013 10:12 WIB
Karya Yang Diakui Dari Memanfaatkan Kamera Seadanya
Jakarta - Saat sebuah peristiwa besar terjadi, jika beruntung seringkali kita dengan mudah langsung menemukan foto-fotonya di internet.

Tak selalu media massa yang mengunggah, karena foto-foto itu tak jarang adalah hasil jepretan kamera -- mungkin dengan kamera di ponsel -- oleh warga yang langsung jadi saksi peristiwa tersebut.

Ya, perkembangan teknologi mengizinkan siapapun untuk mengabadikaan kejadian besar dan langsung mewartakan pada teman dan kerabatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi dengan munculnya berbagai kamera yang terus berevolusi, media sosial dan situs berbagi foto yang bisa jadi ajang penyebaran hasil jepretan. Istilahnya citizen journalism atawa warga biasa yang jadi pewarta.

"Ide dibalik citizen journalism adalah orang yang tidak melalui masa pendidikan jurnalisme profesional, bisa menggunakan peralatan teknologi modern dan distribusi global dari internet untuk membuat berita," demikian kata Mark Glaser, jurnalis lepas dalam bukunya 'Your Guide to Citizen Journalism' pada tahun 2006.

DetikHOT mencoba menelisik sejauh mana masyarakat kita memanfaatkan kamera apapun di tangan mereka untuk dunia fotografi awam.

***

Fakta terkait citizen journalism, awalnya memang banyak berkembang di barat. Tapi bukannya kemudian tak sampai ke belahan dunia lain.
Di Indonesia sendiri, boleh dikata kita mulai mengenal citizen journalism saat Cut Putri, gadis asal Banda Aceh dengan ponselnya merekam pergerakan ombak tsunami yang sekaligus merendam rumahnya pada 26 Desember 2004.

Video amatir Cut Putri selama beberapa hari jadi satu-satunya gambaran tentang parahnya kondisi Aceh saat itu.

Peristiwa besar lain yang terekam kamera warga adalah peristiwa jatuhnya pesawat U.S Airways, tahun 2009 di Sungai Hudson, Amerika Serikat.

Saat itu berita dan foto jatuhnya pesawat ini sudah sampai duluan kepada masyarakat melalui Twitter dari akun Janis Krums, sebelum awak media mengabarkan hal ini.

"Dengan kamera iPhone-nya ia memfoto kejadian tersebut. Dia orang pertama yang menyaksikan dan mengambil gambar. Padahal dia bukan seorang jurnalis," kata Mosista Pambudi, Kepala Sekolah di Museum & Galeri Foto Jurnalistik Antara kepada detikHOT pada Selasa (10/9/2013). "Baru setelah itu fotonya dibeli oleh kantor-kantor berita besar disana."

***

Namun menurut Mosista, meski semua orang bisa menjadi warga pewarta, ada hal-hal yang juga perlu diperhatikan.

"Mereka tetap harus tahu seperti apa foto jurnalistik asli." Karena tanpa adanya unsur-unsur yang dikandung tadi, akan sulit untuk diuji keabsahan informasi yang dikandung dalam foto tersebut.

Sebaliknya masyarakat yang melihat hasil fotonya harus memahami persyaratan jurnalistik tadi. Ini mencegah adanya kekacauan arus informasi, bila sebuah foto ternyata palsu.

Ini sangat penting, karena tampilan visual seperti foto akan lebih mudah menyerap kepercayaan masyarakat. Jadi sebuah foto yang masuk sebagai foto jurnalistik itu, harus bisa dibuktikan kebenarannya.

"Enggak sembarangan kita bisa menilai sebuah foto sebagai foto jurnalistik, juga tidak bisa setiap foto itu menjadi foto jurnalistik," jelasnya.

Salah satu contoh buruk adalah saat peristiwa pesawat Sukhoi yang jatuh di wilayah Gunung Salak, Jawa Barat. Saat masih dalam proses pencarian, orang-orang masih berspekulasi letak pasti jatuhnya pesawat, tiba-tiba ada orang yang menggunggah foto reruntuhan pesawat, di wilayah yang mirip seperti Gunung Salak.

"Dia kasih foto seperti itu, seolah-olah benar. Orang-orang sudah terlanjur percaya, padahal setelah diselidiki ini kejadiannya di Peru. Informasinya jadi menyesatkan," kata Mosista.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads