Tak tanggung-tanggung, rangkaian acara itu rencananya akan dilaksanakan hingga awal tahun 2014 mendatang.
"Totalnya sampai Januari mendatang, sampai ke Ubud dan Singapura," kata pengurus S.Sudjojono Center, Maya Sudjojono kepada detikHOT, Selasa (10/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka datang ke kami, bilang mau ikut memperingati Pak Djon," kata Maya mengenang pembicaraan dengan Gadung. Sang sutradara mengatakan ini merupakan pementasan teater yang terbilang unik.
Alasannya, dalam hal skenario Gandung tak boleh berkhayal dan menggunakan imajinasi dalam menceritakan kisah hidup Djon.
"Apa yang ditulis di naskah, betul-betul kenyataan. Saya wawancara Bu Rose, keluarganya, pelajari lukisannya. Saya bisa pastikan tidak akan karangan apa pun," ujar Gandung kepada detikHOT.
Dalam menceritakan setiap bagian dalam pentas, kata anggota Teater Mandiri tersebut ia membuat kisah yang paling menarik terlebih dahulu. Menurutnya yang menarik adalah kisah awal pertemuan antara Djon dan Rose.

Dilanjutkan dengan kilas balik kisah kehidupan Djon dan putri-putri tirinya dari Rose. "Yang menarik bagaimana ia menganggap anak-anaknya. Di rekaman suaranya, ia mengatakan, secara fisik memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Tapi secara kasih sayang tidak ada bedanya," kata Gandung.
Dalam pentas ini pun, Gandung meriset sampai 9 bulan lamanya. Serta menampilakan suara mezzo sopran milik Rose yang masih menjadi daya pikat bagi penonton, apalagi ketika lagu penutup 'Ave Maria' dinyanyikan.
Ketika ada bagian dua penari yang menari dengan layar putih dan tampak saling berkaitan, menurut Gandung, itu adalah simbolisasi hubungan keduanya. Di pentas ini juga terdapat suara asli Djon yang diperdengarkan. Rekaman tersebut direkam pada 1982 lalu.
Selain itu, menurut Santy Saptari, kurator pameran 'Seabad S.Sudjojono' untuk penyelenggaran karya-karya pendiri dari Persagi tersebut akan ada sekitar 35 lukisan. "Tidak hanya itu saja, tapi juga ada surat-surat cinta Pak Djon ke istri, KTPnya, cangklongnya, topi yang biasa dipakai, hingga 25 sketsa akan ditampilan," kata Santy Saptari kepada detikHOT.
Pameran lukisan pada 13 Desember-12 Januari mendatang akan dibagi secara tematik. Di antaranya secara publik figur dan individual dalam keluarganya.
Nantinya, akan ada lukisan berjudul 'Ibuku' yang dibuatnya pada awal tahun 1935. Serta ada sebuah lukisan yang diselesaikannya sebelum ia meninggal pada 25 Maret 1986 silam.
"Itu gambar pemandangan. Di lukisannya ia menulis inilah corak Indonesia baru seperti ini," kata Santy. Pameran ini dilaksanakan dengan mengumpulkan koleksi dari kolektor pribadi, S.Sudjojono Center, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Universitas Pelita Harapan, dan Galeri Nasional.
(utw/utw)











































