Julukan yang diberikan karena kemampuan Djon yang seperti menembus jiwa obyek lukisannya dan melukisnya sebagaimana adanya itu dirasakan langsung oleh aktris kawakan, Jajang C. Noer.
Saat berusia 17 tahun, Jajang bertetangga dengan Djon. Tapi tak lantas dia punya kesempatan menjadi obyek lukisan Djon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tuh ingin dilukis beliau. Sampai merengek segala. Wuih, pasti seru banget yah lukisan om dan tante saja bagus sekali. Pikir saya juga begitu," katanya kepada detikHOT di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jumat (6/8/2013).
Pemenang Festival Film Indonesia dalam kategori Aktris Pendukung Terbaik di film Bibir Mer (1992) ini mengatakan untuk harga potret lukisan dirinya ia harus memberikan seluruh tabungan. "Saya tetap harus bayar, saya kasih Pak Djon Rp 10 ribu," ujarnya.
Harga tersebut jika disetarakan dengan nilai masa sekarang ini, kata Jajang, nominalnya sekitar Rp 7 sampai 10 juta. Tak heran harga segitu saat tahun 1969, sudah menguras tabungan Jajang remaja.
Kemudian, Jajang disuruh datang pada hari Minggu berikutnya pukul sembilan pagi. Ia mengaku rasanya senang betul karena bisa dilukis oleh pelukis ternama.
Namun, ia baru memahami jika dilukis butuh usaha juga. Tak seperti dipotrey yang jadi sekali jepret. "Sudah berkali-kali pose, menyong sana, menyong sini. Kirain kayak foto sekali datang sudah jadi, ha..ha..ha," kata Jajang mengenang.
Alhasil, lukisan potret dirinya malah menampilkan gadis dengan wajah cemberut. Menurut Jajang, kelihatan sekali hasil jadi lukisannya laiknya seseorang yang tak ingin dilukis.
"Terus terang namanya masih remaja, saya enggak tahu seniman itu apa. Saya cuma ingin dilukis seperti itu. Yah hasilnya begitulah, mungkin saat itu jiwa yang kelihatan di saya seperti itu," katanya.
Putri dari tokoh nasional kemerdekaan Indonesia, Nazir Datuk Pamoentjak pun hanya bisa pasrah melihat hasil lukisannya jadi. Mungkin, kata dia, itulah sosok jiwa seorang Jajang saat itu.
Di dalam lukisan potret dirinya ia terlihat sedang cemberut, mimik menggambarkan pemberontakan dan sorot mata yang tajam. Di sana, juga terlihat rambut sepundak ikal masa remaja.
Kini, lukisan tersebut terus dipajang di ruang tamu rumahnya. Itu merupakan harta berharga baginya. "Itu salah satu harga berharga saya, enggak akan dijual ke mana pun. Kalau ada pameran pun saya yang minta untuk dipamerkan," ujar Jajang bangga.
(utw/utw)











































