Charda dan Payung Emas

Muslihat - OK Video 2013 (5)

Charda dan Payung Emas

- detikHot
Senin, 09 Sep 2013 15:48 WIB
Charda dan Payung Emas
Charda
Jakarta - Ada banyak karya kejutan yang bisa dilihat di Festival OK Video tahun ini. Misalnya saja karya M.R. Adytama Pranda atau dikenal sebagai Charda. Dia adalah seniman jebolan Intitut Teknologi Bandung jurusan Desain Grafis.

Charda sendiri sudah aktif mengikuti berbagai pameran sejak tahun 2008. Pada acara OK Video sebelumnya, Charda berhasil meraih penghargaan Best Video.

Selain memamerkan karyanya di dalam negeri, ia juga memamerkan karyanya di ranah internasional, seperti di Belanda, Amerika Serikat dan Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada OK Video 2013, Charda menyuguhkan karya seni instalasi yang bertajuk Fictional Truth Collection #2 - The Golden Umbrella.

Dalam karyanya, ia menyuguhkan kesan antik, dengan empat frame gambar yang ditata. Frame tersebut berisi gambar payung, foto dan benda arkeologi.

Memasuki sudut wilayah instalasinya, kita akan silau dengan warna emas yang mendominasi. Terdapat juga sebuah pakaian yang digantung, bendera dan dua frame foto yang tampaknya menggabungkan konsep digital. Ini diperkuat dengan sebuah peti kemas besar.

Karya ini, merupakan bagian dari seri proyek yang ia kerjakan sebelumnya pada kegiatan pameran yang lain.

"Konsep dari karya saya kali ini, menereskan konsep karya dari kegiatan sebelumnya. Yaitu saat saya mengikuti residensi selama tiga bulan di Cemeti," ujarnya kepada detikHOT pada Rabu (4/9/2013) di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Charda menjelaskan karyanya membahas sejarah dan artefaknya, topik yang memang menarik perhatiannya.

Ketika menjalani residensi di Cemeti Art House, Jogjakarta, Charda lebih fokus ke arah artefak sejarah dan mengambil topik soal kesultanan Jogjakarta. Dia cukup prihatin, dimana artefak utama di Kesultanan Jogjakarta, justru berada di Belanda dan Inggris.

Menurut pria berusia 26 tahun ini, orang-orang di Keraton justru tidak pernah tahu soal artefaknya. "Jadi kasarnya saya menghadirkan artefak-artefak, yang orang enggak pernah lihat sebelumnya. Saya selalu coba menghubungkan sejarah umum ke sejarah lokal," kata Charda.

***

Pada seri karyanya yang kedua dan dipampang di OK Video 2013, Charda menyuguhkan tema payung emas. Payung emas adalah sebuah peninggalan Raja Badarudin saat membawa kesultanan Palembang pada masa kejayaannya di abad 19.

Payung ini melambangkan kemakmuran, namun ketika dilacak kembali keberadaan serta sejarahnya, museum-museum negara kolonial lah yang menjadi muara akhir penyimpanan artefak sejarah Nusantara.

Maka proyek seni instalasi Charda, memberikan ilustrasi soal hal tersebut. Selain itu, ia juga coba memperkenalkan sosok ciptaannya, yang diberi nama Urban Archeologist.

"Jadi dia itu seperti arkeolog, yang enggak memiliki dasar arkeologi.Tapi dia merasa bahwa, sekarang itu pihak-pihak yang seharusnya perduli sama sejarah, fungsinya enggak jalan."

Akhirnya Urban Archeologist itu menjalankan fungsinya dengan cara dia sendiri. Jadi di dalam karyanya kali ini terjadi persilangan antara arkeologi sebagai disiplin ilmu dan karya seni.

Sejarah sendiri memiliki peran yang penting bagi kehidupan, menurut Charda, bila seseorang tidak memahami atau tahu soal identitasnya, untuk maju ke depanya akan sulit untuk seimbang.

***

Tema Muslihat pada OK Video tahun ini, menurut Charda sudah memiliki banyak perkembangan, menjadi lebih fokus dan lebih selektif dalam memilih karya.

Karya yang dipampang pada acara ini, banyak sekali yang mempertanyakan juga menantang teknologi. Ini berbeda dari karya yang dihadirkan oleh Charda.

"Sebenarnya pada karya saya enggak langsung ke teknologi, tapi lebih ke sejarahnya. Dimana sejarah itu sebagai muslihatnya," kata Charda. Menurutnya banyak distrosi mempermainkan sebuah sejarah, demi kepentingan seseorang. Ini ditemui sejak zaman dulu, seperti apa yang digoreskan pada masa Orde Baru.

"Dalam keseharian juga sejarah banyak dipermainkan. Sementara cerita sehari-hari itu akan menjadi sejarah ke depannya. Dan ngomonin soal menjadi sejarah kan enggak harus 30 tahun kedepan. Tapi apa yang terjadi hari ini, minggu depan sudah menjadi sejarah."



(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads