Di atas panggung Festival Musik Bambu Nusantara yang ketujuh di JCC Selasa pekan lalu (27/8/2013), Barry Likumahuwa asyik memainkan gitar bass yang terbuat dari bambu. Ia pun berkolaborasi dengan pemusik lainnya.
Β
Usai penampilan, seluruh penonton bersorak sorai. Dwiki Darmawan mengenalkan alat musik tersebut. "Kenalkan, ini bass yang terbuat dari bambu, seniman yang membuat asal Bandung. Ternyata bambu juga bisa dibuat gitar bass lho," ujar Barry disambut gelak tawa.

Sang pembuat bass bambu tersebut adalah Yuyus Tanuatmadja, 60 tahun. Ia adalah Ketua Gabungan Seniman Pengrajin Bandung dan Saiderna (Garabas).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baginya, belajar musik itu seperti belajar filosofi hidup. Sarjana dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia jurusan karawitan ini ketika sekolah menengah atas, ia juga bersekolah di Konservatori Karawitan Indonesia, Bandung pada 1970.
"Saat itu, saya sudah diajarkan cara membuat alat-alat musik. Ditambah kuliah Karawitan, saya sudah memfokuskan hidup saya untuk musik," ujarnya.
***
Pria kelahiran 16 Mei 1951 ini awalnya membuat alat musik dan kerajinan tangan yang terbuat dari bambu sejak 23 tahun lalu. Di antaranya angklung, calung, arumba, kipas tangan, tas bambu, dan pajangan lainnya. Namun lama kelamaan ia bosan dan punya ide untuk mencoba membuat alat musik bambu.
Pada awal 2001, Yuyus mencoba membuat gitar bass dan melodi. Dia sempat gagal tiga kali. "Ada yang bentuk presisinya enggak sama, ada yang bunyinya enggak standar kalau dimainkan dengan alat musik lainnya. Itu susah sekali," katanya.
Hingga kini, Yuyus tetap membuat kedua alat musik tersebut. Tapi, ia mengakui hanya menerima pemesanan saja. Jika membuat banyak, alatnya belum terbukti memiliki kualitas tinggi yang tahan lama.
Ia pun tetap akan melestarikan bambu sebagai bahan utama alat musik. Dia merasa sebagai orang Sunda sudah sepantasnya dia melestarikan tumbuhan yang disebut orang Sunda sebagai wiwitan itu. Wiwitan sendiri punya makna sudah ada sejak manusia ada juga. "Bambu karena bambu itu seperti hidup saya," ujar Yuyus.
***
Sebuah alat musik yang dibuat dengan kualitas tinggi buatan tangan tentunya berharga tinggi. Namun Yuyus Tanuatmadja belum mau memberlakukan harga tinggi untuk gitar bass bambu karyanya.
"Karena belum tahu kuatnya berapa lama, berapa umurnya, dan kualitas bambunya," katanya kepada detikHOT.
Menurutnya, bahan baku bambu berbeda dengan kayu. Jika kayu yang biasa digunakan untuk gitar lebih kuat ketahanannya. Makanya, harganya bisa lebih mahal. Yuyus memperkirakan gitar bass bambunya mungkin baru akan mahal harganya 5-10 tahun mendatang."Sekarang masih Rp 2 juta, yah nanti bisa di atas Rp 5 jutaan atau lebih."
Lalu, apa perbedaan antara gitar listrik dan gitar bambu? Yuyus mengatakan jika mendengar pendapat dari pemusik profesional yang pernah mencobanya, gitar bambu lebih natural dan bernuansa suara alam.
Sedangkan gitar listrik semua orang pasti pernah maupun sering mendengarnya. Untuk menstandarkan suaranya Yuyus Dwiki Darmawan dan ahli musik lainnya.
Suara standar tersebut baru didapatkan Yuyus pada 2009 lalu. Padahal ia sudah mencoba membuatnya sejak 2001. "Untuk dapat nada yang pas memang susah sekali."
Sedangkan untuk memilih bahan baku bambu pun tak boleh sembarang ambil. Salah satu anggota grup musik etnik asal Bandung Sorasada ini juga menyebutkan jika ia mengambilnya dari kawasan Ciwidey.
Pasalnya di sana terdapat kebun bambu yang luas. Khusus untuk kategori tanaman bambu yang bisa dibuat alat musik adalah bambu yang sehat, sudah tua, tumbuhnya tegak dan bukan bambu yang tumbuh berkelompok atau serumpun.
"Yang terpenting itu bambu mono dan tegak, kalau yang berkelompok biasanya suaranya kurang kuat, sehingga timbul suara fals," kata Yuyus.
Demi mendapatkan kualitas yang bagus, ia pun mencari serta menebang bambunya sendiri. Lamanya pembuatannya bisa mencapai sekitar satu bulan. Jika ternyata suara yang dikeluarkan dari gitar bambu itu tak sebagus gitar listrik, mau tak mau, Yuyus harus membuatnya kembali.
Hingga kini, hasil karyanya sudah dijual hingga ke luar negeri. Penggemarnya banyak yang berasal dari Kanada, Amerika, dan Malaysia. Seniman dan pemusik dalam negeri pun tak ingin kalah bersaing membelinya.
Di antaranya seperti Dwiki Darmawan, Acil Darmawan Bimbo, Agam Hamzah, dan Barry Likumahuwa yang baru memesannya pekan lalu. "Pas di panggung, Barry kan baru mencobanya, ia bilang suka dan langsung menghampiri saya untuk pesan. Katanya, dia jatuh cinta dengan gitar bambu."
Nantinya, tak menutup kemungkinan jika Yuyus membuat jenis alat musik lainnya. Namun, ia belum memikirkan hal tersebut. Jika penjualan gitar bass dan melodi buatannya sudah banyak yang menyukai, ia cukup sudah bahagia.
(utw/utw)











































