Itulah pesan yang ingin disampaikan dari perhelatan kolaborasi desain dan seni kontemporer terbesar di tanah air, Indonesian Contemporary Art and Design 2013. Mengambil tema 'RESTART', Reinvent History, Revolutionize Story, pameran ini ingin mengajak masyarakat untuk melihat perspektif masa lalu dengan cara berbeda.
Ketua Panitia ICAD 2013 Harry Purwanto mengatakan, setiap peserta membahasakan ulang sebuah cerita masa lalu, baik yang menyentuh kehidupan pribadi, kritik sosial, sampai sejarah Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, ICAD kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain menyajikan ide dan konsep baru, peserta yang ikut pun semakin banyak. Tidak melulu seniman senior, juga ada seniman muda yang datang dari latarbelakang berbeda.
"Ini tahun keempat diadakan ICAD dimana ada 45 insan kreatif lintas generasi. Mereka datang dari latarbelakang macam-macam. Ada desainer, arsitek, perupa, sineas, fotografer, penulis," ujarnya.
Ada alasan tersendiri mengapa ICAD selalu digelar di area publik sebuah hotel. Di satu sisi ada keuntungan ekonomis. Tapi, di sisi lain masyarakat diajak menikmati intrepretasi sejarah melalui karya seni.
Harry bilang, antusiasme pengunjung yang datang ke pameran ini tiap tahun makin bertambah. Artinya, semakin banyak orang yang mulai bisa menikmati karya seni, bukan sekedar melihat-lihat dan berlalu begitu saja.
"Semua jadi berbaur. Lintas usia, semangat baru, saling tukar menukar info. Kemudian bersentuhan dengan industri hotel, lebih berwarna lagi yang bisa kita pelajari. Mudah-mudahan ini jadi satu harapan pembelajaran buat masyarakat untuk mencintai seni," katanya.
Seniman muda sekaligus pencetus tema RESTART, Irwan Ahmett, berpendapat bahwa seni mempunyai nilai universal yang mengijinkan banyak intrepretasi saling berbaur harmonis.
"Seni mampu memperhalus dan mampu mengintervensi sosial. Seni punya interpretasi menarik, jadi sebenarnya tidak perlu dibatasi pada satu intrepretasi karena semakin beda intrepretasi, semakin memperkaya," ujar Irwan.
"ICAD suatu fenomena anomali yang unik. Saya rasa potensi-potensi seperti ini untuk ke depan punya daya politis yang sangat besar," tambahnya.
Sejumlah nama seniman senior ikut berpartisipasi. Mereka diantaranya Hanafi, Yani M. Sastranegara, Dolorosa Sinaga, Teguh Ostentrik, Diana Nazir, Irvan A. Noe'man, dan Bambang Wibawarta. Dari kalangan muda juga tak ketinggalan. Sinta Tantra dan Fitorio Bowo Leksono, dua seniman yang tinggal di luar negeri, rela kembali ke tanah air untuk perhelatan ini. Ada juga seniman kayu dari Bandung, Gilang Mandiri, fotografer Doddy Obenk, Francis Surjaseputra, desainer Rosso, dan banyak lagi.
Penasaran ingin melihat intrepretasi baru dari sebuah masa lalu? Anda bisa datang ke Grand Kemang Hotel, Jakarta. Pameran ini berlangsung selama hampir satu bulan, dari tanggal 30 Agustus 2013 sampai 27 September 2013.
(fip/fip)











































