Siapa yang tak kenal dengan Drupadi? Ia adalah putri dari Prabu Drupada di kerajaan Panchala. Namanya terkenal dalam kitab Mahabarata. Serta menurut versi India menyebutkan ia merupakan istri bagi Pandawa Lima.
Dengan latar belakang kisah tersebut, seniman keramik Fransiskus Widayanto mengambil tema Drupadi di 30 tahun karirnya. "Ia adalah simbol wanita yang kuat, penuh dengan naik dan turunnya kisah kehidupan," katanya di Galeri Nasional Kamis (22/8/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin wanita. Saya pikir tadinya maunya Ratu Pantai Selatan atau Srikandi. Tapi Srikandi tidak punya kisah sedramatisir Drupadi. Referensinya juga minim sekali," katanya.
Bagi Wied, Drupadi adalah sosok wanita jaman sekarang. Ia mengibaratkannya sebagai sosialita masa kini. Kuatnya karakter, kerasnya pendirian, dan mempunyai sikap tak ingin dijatuhkan harga diri adalah buktinya.
Lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Teknik Bandung (ITB) kekhususan keramik pada tahun 1983 ini juga mengatakan tak ada kesulitan penggarapan patung Drupadi selama tiga tahun. Dari awal karir seni keramik, Wied selalu serius dalam menggarap tema, konsep, dan identik kultur Indonesia.
"Tentunya dengan improvisasi saya, dan ditambah tren masa kini. Kombinasi itu selalu ada, sama saja seperti blended dari kehidupan saya, yang bukan semuanya real Jawa," kata Wied.
Pada pameran itu sebanyak 30 patung keramik Drupadi dikerjakannya bertahap. Satu patung diselesaikan sekitar dua bulan.
Yang membuatnya lama, kata Wied, adalah beragam detil aksesoris di patung Drupadi. Di antaranya tusuk konde dan giwang berbahan asli perak karya desainer Indonesia yang kini tinggal di London, Alfons Stephanus. Wajah Drupadi yang dipoles laiknya riasan alis, bedak, lipstik dan perona pipi.
Serta simbol kupu-kupu di sekitar kain Drupadi yang menandakan keharuman tubuhnya. Keramik berbentuk dadu-dadu sebagai simbol perjudian. Patung-patung itu pun tampak lebih cantik dan sensual.
Di pameran kali ini, ia membuatnya menjadi empat babak. Pertama, saat kelahiran Drupadi yang dimulai dari ritual api suci memohon anak dalam wiracarita Mahabarata. Kedua, kisah percintaannya dari sayembara memanah yang diselenggarakan ayahnya, Drupada.

Ketiga, insiden perjudian yang dilakukan Yudhistira dan mempermalukan harga diri Drupadi. Serta babak terakhir adalah kutukan dan kemurkaan Drupadi ketika Dursasana melucuti kembennya hingga melorot. Di pameran juga terdapat patung berjudul 'Dru vs Dur' yang memperlihatkan perkelahian mereka.
"Sebenarnya begitu banyak mitologi yang mau diangkat. Saya berpikir, membaca dan melihat tren masa kini. Seperti 'Semar' waktu peralihan Soeharto. Dan Narcissus Narcissus (2007) saat jaman metro seksual di dunia metropolitan saat ini," ujar Wied.
Pria kelahiran 19 Januari 1953 ini juga mengatakan selanjutnya, ia tetap akan mengeksplor bentuk-bentuk mitologi Jawa yang belum dibuat oleh seniman siapa pun. "Bisa jadi mitologi, wayang, dan masa kini. Tentunya dalam kemasan baru persepsi saya dan keramik yang terlihat lebih modern dan ekspresif," katanya.
(utw/utw)











































