Tujuh Tanda Sebuah Seni Berkualitas

Inspirasi Para Seniman Keramik (4)

Tujuh Tanda Sebuah Seni Berkualitas

- detikHot
Senin, 02 Sep 2013 11:55 WIB
Tujuh Tanda Sebuah Seni Berkualitas
Jakarta - Idealisme merupakan yang terpenting dalam membuat sebuah karya. Namun sebaiknya unsur seni dan nilai jual dapat diselaraskan bersama.

"Faktor commercial value yang jarang dipikirkan oleh seniman. Ini juga yang membuat seni keramik ada sedikit di Balai Lelang Internasional selain lukisan dan patung," kata Vice Chairman Himpunan Keramik Indonesia, Dr. Handojo Susanto kepada detikHOT di Museum Nasional, Kamis (22/8/2013).

Menurutnya, ada tujuh unsur penilaian suatu karya dikatakan berkelas dan laik dibeli oleh kolektor. Panduan ini dikutip dari buku 'Ancient Martavans: A Great Forgotten Heritage' karya Boedi Mrananta dan Handojo Susanto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di antaranya pertama yaitu age atau umur. Semakin tua usianya, makin tinggi nilainya. Kedua, beauty atau keindahan. Semakin indah bentuk glasir, warna hingga dekorasinya, makin tinggi nilainya. Ketiga, condition atau kondisi. Jika bentuknya utuh dan tak cacat juga makin berkualitas.

Keempat, provenance atau keaslian suatu karya. "Seniman harus punya backup karyanya. Namanya pemalsuan di mana-mana pasti terjadi. Lebih baik ada sertifikat karya, foto seniman dan tulisan tangan si seniman yang menyatakan asli," kata Handojo.

Selanjutnya unsur kelima yakni quality atau kualitas. Keenam, rarity atau kelangkaan. Menurut Handojo, semakin jarang jenis suatu karya, maka semakin tinggi nilai jualnya.

Sedangkan unsur terakhir yakni size and shape yaitu ukuran dan bentuk yang menentukan nilai suatu karya. "Biasanya jika bentuknya lebih bagus, besar, dan berbeda dari karya-karya si seniman sebelumnya, itu juga sebuah nilai jual tinggi."

***

Handojo memberikan contoh lukisan karya Popo Iskandar. Dalam setiap pamerannya, Popo terkenal akan objek binatang seperti kucing, ayam jago, dan harimau. Gaya ekspresionism dan bernuansa minimalis membuatnya terkenal.

Namun, ketika ia membuat lukisan seorang wanita, itu menjadi daya tarik dan nilai jual tinggi di mata kolektor. "Ini yang membuat namanya menjadi naik. Saya pun langsung memburunya karena faktor kelangkaan tadi," ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan kurator pameran Eddy Soetriyono. "Kalau pun seniman berkompromi, antara art value dan comercial value dan bisa berjalan bersama-sama, tentunya tidak akan meninggalkan pribadi si seniman," katanya.

Tentunya, Handojo berharap seniman juga mengerti keinginan dari para kolektor khususnya bidang keramik. Jika membuat seni yang sangat luar biasa tapi tak menjual itu akan sulit sekali.

"Seniman tak akan bisa berdiri sendiri tanpa adanya pembeli. Kembali lagi ke nilai rarity, size and shape, dan unsur lainnya. Art dan komersil itu harus bisa kompromi," ujar Handojo.



(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads