Di Jepang, Komikus Dihormati dan Diperlakukan Bak Selebritas

Manga Rasa Indonesia (3)

Di Jepang, Komikus Dihormati dan Diperlakukan Bak Selebritas

- detikHot
Senin, 26 Agu 2013 12:52 WIB
Di Jepang, Komikus Dihormati dan Diperlakukan Bak Selebritas
Jakarta - Berbagai pengalaman selama berada di Jepang begitu berkesan bagi pemenang penghargaan Silver Award dari International Manga Award, Ockto Baringbing dan Muhammad Fathanatul Haq (Matto). Di sana, mereka mengunjungi beberapa penerbit dan museum manga yang terkenal.

Lalu, bagaimana kesan mereka terhadap dunia manga Jepang? Menurut Ockto yang bertugas sebagai penulis cerita '5 Menit Sebelum Tayang', seorang komikus diperlakukan laiknya orang terhormat.

"Ini yang saya alami sendiri saat pemberian penghargaan Manga Award," ujarnya kepada detikHOT, Sabtu (24/8/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sana, majalah maupun buku komik mudah ditemui di minimarket dan dengan harga terjangkau. Serta sudah ada pembagian segmentasi pembaca mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, pria dan wanita.

Para comic artist, kata Ockto, juga seperti selebriti. Jika komiknya terkenal, ia bisa menjadi bintang iklan sebuah produk.

"Seperti karakter Luffy di komik 'One Piece', saya hampir bisa menemuinya di semua tempat di Jepang, bahkan ketika mengunjungi kuil, ia jadi figur jualan," kata Ockto.

Lantas, wajar saja jika Jepang disebut sebagai surganya komik. Jika berbicara mengenai profesinya, di Jepang seorang komikus bisa mempunyai banyak asisten.

Mereka juga bisa punya editor yang siap membantu mencarikan referensi agar mendapatkan ide cerita. "Ini yang berbeda sekali dengan Indonesia," kata video editor di Trans TV ini.

Yang paling diingat Ockto adalah ketika juri utama Manga Award mengatakan hal unik terhadap karyanya sehingga bisa menang. Di dalamnya, memiliki unsur cerita kehidupan sehari-hari. Hal ini yang kedekatannya kental dengan pembaca.

Selain itu, ketika mereka mengunjungi Kyoto International Manga Museum, sang penggambar komik yakni Matto juga masih mengingat perkataan peneliti manga di museum. Salah satunya, sebagian besar penghasilan penerbit dari Shuesha dan Kodansha berasal dari manga dan produk turunannya.

Para penerbit di Jepang juga terheran ketika mengetahui Ockto dan Matto sebenarnya hanya kenalan di akun jejaring sosial facebook. Serta bekerja di dua kota yang terpisah yaitu Jakarta dan Yogyakarta.

"Mungkin di Jepang jarang terjadi. Soal dari karya kami, mereka bilang senang karena bisa tahu dunia pertelevisian di Indonesia seperti apa," ujar pria kelahiran Tolitoli 18 Januari 1989 ini.

Ockto juga sempat ditanyakan oleh CEO Studio Anime Pierrot, apakah dirinya mengenal Naoki Urasawa. Pasalnya dari teknik gambar maupun cara bertutur mirip dengan gaya comic artist pembuat '20th Century Boys' tersebut.


(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads