Shidiq mengungkapkan dalam sebulan pendapatannya berkisar antara Rp 3 sampai Rp 5 juta. Itu diluar pesanan-pesanan khusus seperti sovenir dan sepatu lukis. "Namanya usaha ya kadang nggak tentu. Ya, kisarannya segitu. Buat biaya hidup di daerah Insya Allah cukup," kata Shidiq kepada detikHOT, Rabu (14/8/2013).
Pria berusia 26 tahun ini bercerita, modal awal untuk membangun bisnis kaus lukis tidak besar. Hanya Rp 800 ribu. Dari jumlah modal itu, bisa dibayangkan keuntungan yang diperoleh bisa berkali lipat. "Ya Alhamdulillah. Kalau nggak menguntungkan ya nggak diteruskan toh," ujarnya.Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shidiq juga membuat kreasi lain lewat sepatu lukis seharga Rp 130 - Rp 135 ribu. Produk ini pun tak kalah diminati. Baik oleh anak muda maupun orangtua. "Sepatunya ringan. Pelanggan bisa request mau lukisannya kayak gimana," katanya.
Jika sedang sepi, Shidiq hanya menerima pesanan satu sampai dua kaus per hari. Namun, saat sedang kebanjiran order, Shidiq pun kerepotan. Bisa belasan hingga puluhan pesanan dalam satu minggu.
Untuk memasarkan produk dilakukan berbagai cara. Mulai membuka lapak di Pasar Malam Ngarsopuro, Surakarta, hingga lewat Blackberry dan media sosial.
"Pas pertama-tama ya promosi buat mengenalkan. Terus kesininya mengalir dari mulut ke mulut. Ada pelanggan yang kasih tau ke temannya, sodaranya, jadi pesan juga. Jualan lewat BB juga," ujar Shidiq. "Saya jual kualitas dengan harga terjangkau," lanjutnya.
Mampu membuka usaha sendiri tidak membuat pria asli Surakarta itu cepat puas. Masih ada satu keinginan lagi yang belum terwujud. Dia ingin memiliki kios dan menjadikan kaos lukis oleh-oleh wajib wisatawan. "Ya, inginnya seperti itu. Saya tetap optimis, berpikir positif, dan berdoa. Yakin terwujud," katanya.
(utw/utw)











































