"Saya senang lukisan. Kami sekeluarga memang senang melukis, walau tak semua mengembangkannya," kata Agnes kepada detikHOT di kediamannya di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jum'at (16/8/2013).
Selain kegemaran melukis, ada cerita lain dibalik keputusannya beralih dari rancangan bordir. Saat menjadi perancang khusus busana bordir, Agnes memiliki banyak sekali partner pengrajin dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Tiap regu pengrajin mempunyai empat sampai lima anak buah. Nah, dari situlah karyanya mulai banyak dijiplak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukisan bertema alam seperti dedaunan, bunga, tumbuhan, dan pegunungan, adalah yang paling sering dibuat. Dengan karya lukis diatas busana, maka orisinalitasnya akan lebih terjaga.
"Orisinalitas dan spontanitasnya menyatu. Jadi, tidak akan pernah ditemukan dua gaun lukis yang sama persis, tidak ada. Kalau hanya mirip masih mungkin," kata Agnes.
****
Bukan hanya mempertahankan orisinalitas dan spontanitas saja tantangan bagi Agnes. Karena memang melukis di atas kain bukan perkara mudah. Mulai soal pemilihan bahan kain, cat, teknik melukis, hingga menentukan proporsi warna. Semua harus dilakukan dengan hati-hati.
Agnes menuturkan, tidak semua jenis bahan bisa dilukis. Pasalnya, ketebalan serat kain berbeda. Bahan kaos yang mulur adalah yang paling sulit diaplikasikan sebagai busana lukis.
"Kaos mulur (sejenis kaos spandek)itu susah banget karena kuas tidak bisa lancar dan enggak gampang menyerap cat," kata Agnes.
Adapun jenis bahan yang paling mudah dilukis adalah sifon sutra karena paling baik menyerap cat dan menimbulkan garis warna yang terang.
Sementara bahan katun meski menyerap cat dengan bagus, menurut Agnes kurang lentur. Tak semua baju bagus menggunakan kain katun. Meski ada baju yang justru bagus menggunakan katun, batik misalnya.
Tantangan lain yang dihadapi saat melukis gaun adalah potensi cat warna yang bergerak liar, membaur dan susah menyatu.
Agnes tentu berpengalaman dengan ini. Dia berusaha mencari cara untuk mengatasi warna membaur. Diantaranya memakai teknik lukis dengan gutta atau outline technique.
Agnes menjelaskan, gutta merupakan sebuah alat pembatas cat warna yang mirip canting untuk membatik. Umum dipakai di negara-negara barat seperti Eropa dan Amerika.
"Sebetulnya saya pikir sendiri, gutta itu idenya dari canting batik. Cuma prosesnya lain. Kalau dengan gutta itu timbulnya warna dengan disteam. Jadi, batasan garis ditutup gutta sehingga warna tidak membaur. Misal merah dan hijau tidak akan ketemu jadi cokelat," kata Agnes.
Meski demikian, baik canting maupun gutta tetap memiliki kelemahan yang sama. Jika bocor atau tidak teliti dalam menggaris, maka warna akan tetap kemana-mana.
Desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia itu mengaku dirinya lama kelamaan tidak merasa nyaman menggunakan teknik gutta. Beralihlah ia memakai kuas "Walau gutta menolong tapi saya merasa agak kaku. Saya sendiri tidak terlalu telaten membuat garis rapi dengan gutta. Ya, mulailah melukis dengan kuas, melukis bebas," ujarnya.
Tantangan melukis pakai kuas lebih rumit lagi karena potensi warna meluber semakin besar. Namun, dengan segala upaya akhirnya bisa teratasi walaupun tidak mutlak.
Agnes membocorkan trik untuk meminimalisir warna membaur tadi. Dia bermain pada padu padan serta komposisi warna sehingga membentuk sebuah gradasi. "Saya buat warnanya baur sehingga menjadi gradasi dan itu solusi. Kekentalan cat juga dijaga. Tentu catnya tidak sama dengan lukisan kanvas. Saya pakai cat khusus tekstil," katanya.
Ketika Agnes mengalami kegagalan karena warna lukisan yang membaur hanya ada dua pilihan. Membuang lukisan yang sangat jarang dilakukannya atau dimodifikasi ulang. Nah, modifikasi ulang ini biasanya dilakukan dengan memberi dasar warna gelap pada lukisan atau bermain dengan warna.
(utw/utw)











































