Seniman dan pengusaha kaus lukis asal Surakarta, Shidiq Oktaviandri menjelaskan beberapa tahapan. Mulai dari menyiapkan bahan kaus, membuat sketsa, sampai metode pengeringan."Satu kaus proses buatnya bisa sekitar 6 jam," kata Shidiq kepada detikHOT, Rabu (14/8/2013).
Hal pertama yang dilakukan adalah meletakkan kaos pada sejenis alat penyangga berpenjepit dari tripleks yang diberi pelapis yang tebal dan empuk. Fungsinya agar kaos tidak bergeser.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat melukis, tak jarang Shidiq bermain gradasi warna agar tampilan karya jauh lebih hidup. Begitu semua selesai, dilakukan finishing touch serta pengeringan kurang lebih satu jam. "Dikeringkannya pakai angin-angin saja, jangan kena langsung sinar matahari agar lebih bagus," katanya.
***
Proses pembuatan kaus lukis yang lansung inilah yang membedakan karya Shidiq dengan kaus sablon atau kaus dengan hiasan cetak digital. Karena itu pula, kaus ini memerlukan perlakuan khusus.
Misalnya saja, kata Shidiq, tidak sembarang bahan kaus bisa dilukis. Terutama yang memiliki serat kain besar. "Untuk jumper dan kaus polo tidak bisa karena seratnya besar. Kaus lain bisa," kata Shidiq.
Supaya lukisan tidak luntur, bahan-bahan cat yang digunakan pun dibeli secara khusus. Bukan bahan cat yang biasa dipakai untuk melukis diatas kanvas.
Untuk perawatan agar kaus lukis tahan dalam jangka waktu lama juga ada triknya. Pertama, tidak dianjurkan mencuci kaus lukis dengan menggunakan mesin dan sikat baju. Saat menjemur juga disarankan, kaus lukis tidak langsung berasa dibawah terik matahari.
"Saya anjurkan untuk dikucek saja pakai tangan. Tapi ada pengalaman yang memakai mesin cuci juga tidak apa-apa sih," kata Shidiq.
Tips terakhir, pada saat setrika, gunakan temperatur sedang saja.
Boleh juga menggunakan pewangi dan pelicin pakaian. "Lebih bagusnya disetrika dari dalam atau tidak bersentuhan langsung dengan lukisan," ujarnya.
(utw/utw)











































