Kenapa Sedikit Ahli Spesial Effect Yang Bisa Eksis

Di Balik Dunia Make Up Artist (6)

Kenapa Sedikit Ahli Spesial Effect Yang Bisa Eksis

- detikHot
Senin, 19 Agu 2013 16:49 WIB
Kenapa Sedikit Ahli Spesial Effect Yang Bisa Eksis
Jakarta - Bakat saja tak cukup jika ingin menjadi seorang make up artist. Perlu pengalaman yang diasah terus menerus dan jam terbang luar biasa guna dianggap profesional. Apalagi di Indonesia hanya segelintir pakar spesial effect yang sanggup bertahan.

Darwyn Tse, seorang Make up artist spesial effect yang biasa menangani karakter fantasi, mengatakan di Indonesia seorang yang profesional harus dilihat dari siapa selebritas yang pernah dipegangnya.

β€œMeski tetap based on skill dan pengalamannya. Tapi sebelum kamu ngerjain selebritas ini berarti kamu belum bagus, walaupun you’re really good,” katanya kepada detikHOT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Stigma ini dirasakannya ketika ia baru terjun di profesi ini. Namun beberapa nama-nama besar seperti Sherina Munaf, Adinia Wirasti, Luna Maya, Sarah Sechan, dan sebagainya membumbungkan namanya.

Lalu berapa bayarannya? Darwyn mengatakan angkanya lumayan bisa menghidupi sehari-hari. β€œWow banget, itu sangat lebih lumayan dari gaji mengajar. Padahal tahun 1999 awal aku dibayar pas di Musical Sunset Boulevard, Melbourne sekitar 900 U$ Australia (Rp 8,6 juta),” ujarnya.

Berbeda halnya dengan spesial effect di film Pocong, Notje Tatipata. Menurutnya, satu proyek film bisa menghasilkan puluhan juta bagi satu tim make up artist. Namun, bayaran ini dianggapnya masih lebih rendah dibanding untuk iklan komersial.

β€œDari awal aku terjun ke profesi ini, tetap iklan paling tertinggi dibandingkan film. Tapi film itu asyiknya bisa sambil jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri gratis,” kata Notje yang pernah ke Korea untuk syuting film Hello Goodbye (2013).

Sementara itu, bagi make up artist Komunitas Indonesia Movie Club (IZoC) Febianto, di Indonesia hanya beberapa orang saja yang terkenal menjadi spesial effect di film. Minimnya pendidikan yang memadai, hingga minat pada setiap make up artist juga menjadi salah satu alasan.

β€œFilm horornya banyak, tapi enggak semua orang bisa jadi spesial effect. Mau kursus harganya juga mahal, jadi tinggal beberapa nama saja yang ada,” ujar Febi.

Ia menghitung ada beberapa nama spesial effect senior yang pada akhirnya beralih profesi menjadi pengajar. Tak banyak yang bisa tetap eksis berkiprah di dunia film. β€œIya, sayang sekali. Padahal hasil karya mereka bisa sangat menguntungkan di dunia film yang sudah jaya sekarang.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads