Namun kebanggaan itu tampak tak membuatnya jumawa. Kebersahajaan khas pria Yogyakarta masih tampak kental dalam penampilannya. Dengan postur tinggi badan khas pria Indonesia, Eko yang kerap mengkuncir rambut panjangnya itu berbicara dengan tutur bahasa yang halus dengan aksen Jawa yang kental.
Tapi jangan tanya soal karya dan prestasinya. Sejumlah pergelaran internasional pernah diikuti. Beberapa diantaranya RALLY : Contemporary Indonesian Art, Jompet Kuswidananto & Eko Nugroho di National Gallery, Victoria, Australia, X Biennale de Lyon : Spectable of the Everyday, dan Trans-figuration : Indonesian Mythologies di Espace Culturel Louis Vuitton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya cinta Yogya. Lahir dan besar di sana. Pasti nggak bisa dilepaskan dari kota itu," kata Eko di butik Louis Vuitton, Plaza Indonesia, Selasa (23/7/2013).
Dia bilang, lebih menyukai tinggal di sana. Bahkan, menyepi di sebuah desa di pinggiran di daerah Bantul, Yogyakarta. Aktivitas kesehariannya, tak jauh dari melukis. "Saya tinggal di desa, hidup saya menggambar. Sejak dulu juga bikin kartun, patung," ujar pria yang kelihatan agak gugup berhadapan dengan media massa itu.
Lebih dari itu, Eko sama saja seperti orang lain yang menjalani hidup bertetangga dan bersosialisasi. Tak jarang ikut kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar. "Keseharian saya ya biasa saja. Menggambar, berkesenian, bertetangga, dan bersosialisasi," katanya.
(fip/utw)











































