Eko memandang positif perkembangan seni modern Indonesia saat ini. "Di Indonesia sangat kuat dan berkembang, jadi wacana seni rupa kita sudah disoroti internasional. Banyak seniman Indonesia yang sudah mulai mendunia sebenarnya, mereka sudah pameran di museum juga galeri internasional dan responnya sangat bagus. Jadi Indonesia kuat dengan seninya ya sebenarnya, kalau kita mau sadar," ujarnya kepada detikHOT, Selasa (23/7/2013) di butik Louis Vuitton, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.
Salah satu faktor yang membuatnya berhasil dilirik oleh rumah mode kelas dunia menurut Eko, karena karyanya banyak diikutkan dalam eksibisi di luar negeri. "Pada tahun 2012 saya kembali dengan proyek sebulan pameran di Musee d'Art Moderne, Paris. Di sini kuratornya adalah kurator dari Espace Culturel Louis Vuitton, jadi mungkin dari sana mereka mulai mengamati karya saya. Tapi secara global saya tidak tahu mereka menyeleksinya bagaimana."
Lalu sekitar satu tahun lalu, lulusan Institut Seni Indonesia ini dihubungi oleh Louis Vuitton untuk melakukan rapat di Hong Kong. "Untuk syal-nya sendiri saya membuat enam lukisan, dan mereka memilih salah satunya, proses ini memakan waktu sekitar enam bulan," kata Eko.
Kala proses penempatan lukisannya ke dalam bentuk scarf, Eko bercerita pihak Louis Vuitton sempat mengajaknya untuk ikut mengontrol proses pembuatannya di Italia. Namun sayang, saat itu Eko tengah sibuk mengurus proyek lain jadi ia mempercayakan penuh pembuatannya pada rumah mode tersebut.
Scarf ini akan diproduksi terbatas, yakni sekitar 500 buah "Ini akan sangat terbatas dan sulit ditemukan," ujarnya. Ia mengaku sangat senang bisa berkolaborasi dengan rumah mode ternama ini, kesempatan ini pun merupakan pengalamannya yang pertama dalam membuahkan sebuah kolaborasi produk. "Saya senang bisa jadi bagian yang bisa mendukung masyarakat saya untuk berprestasi ke depan."
(ass/utw)











































