"Ini pertama kali saya main sendiri dalam durasi panjang. Mimpi terlaksana. Saya perempuan, sejak dulu ingin menampilkan tokoh perempuan," ujar Happy.
Tokoh perempuan yang akan ditampilkan Happy adalah Inggit Garnasih. Siapa dia? Tanyalah pada Happy, dan dia akan menjelaskannya dengan fasih. Sebelum disodori naskah 'Monolog Inggit' oleh penulisnya Ahda Imran dan sang sutradara Wawan Sofwan, Happy memang telah membaca buku 'Kuantar ke Gerbang' karya Ramadhan KH.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah membaca buku itu saya jadi tahu, dan terbuka mata saya. Maka ketika diajak untuk monolog ini saya merasa perlu dan ini harus. Soal kalau nanti sukses sebagai pertunjukan, ya itu bonus," papar Happy.
Ahda Imran sendiri selaku penulis naskah juga merujuk pada buku karya Ramadhan KH tersebut. "Kalau bicara soal sumber tertulis memang langka, dan itulah tantangannya membuat monolog ini," kata Ahda.
"Karena buku Kuantar ke Gerbang itu satu-satunya sumber, saya harus cari bandingan tapi ya nyaris tidak ada. Akhirnya saya cari sudut pandang lain dari buku biografi Soekarno karya Cindy Adams," jelasnya.
Menurut Ahda, kesulitan mencari sumber-sumber tertulis itu sudah langsung menjelaskan posisi Inggit dalam sejarah. "Ia tak hanya dilupakan secara nasional, bahkan tiga kali ditolak ketika diusulkan sebagai pahlawan nasional," papar Ahda.
Ahda menuangkan 'Monolog Inggit' dalam 13 babak. Persiapan pementasan pun berjalan hampir satu tahun. Sebelumnya, Monolog Inggit telah dipentaskan dalam skala yang lebih kecil di Bandung, dalam peringatan Hari Ibu 2011 lalu.
"Di Bandung waktu itu sederhana, bahkan nggak pake mike, sound...cuma mengandalkan fisik saya. Lebih untuk memicu diskusi. Tapi, itu semua jadi modal ketika diboyong ke Jakarta. Di sini ada desainer, banyak proses yang disiapkan," tutur Happy.
Jadi, kira-kira akan seperti apa 'Monolog Inggit' yang aka dimulai malam nanti?
"Sebenarnya ini awalnya proyek pribadi saya, mau saya jadiin puisi panjang. Lalu ketemu Wawan Sofwan. Jadinya Inggit yang sangat feminis. Saya memasukkan tafsir-tafsir baru agar aktual dengan isu-isu perempuan kekinian," Ahda Imran memberi gambaran.
Happy Salma pun lalu melantunkan petikan dari lakon monolog itu: Akhirnya Kusno ditangkap. Ia minta saya menyelundupkan buku-buku untuk menggugat pemerintah. Tapi itu tak mudah. Saya mencari cara, puasa dulu agar perut saya kecil. Saya simpan dan ikat buku dalam kebaya saya. Ketika saya mendatangi penjara, saya gemetar, takut ketahuan....
(mmu/mmu)











































