'Kabaret Oriental': Anak Emas Menyatukan Keluarga Juragan Batik

'Kabaret Oriental': Anak Emas Menyatukan Keluarga Juragan Batik

- detikHot
Selasa, 20 Mar 2012 13:28 WIB
Kabaret Oriental: Anak Emas Menyatukan Keluarga Juragan Batik
Jakarta - Dengan gapura berhias kepala naga, panggung Gedung Kesenian Jakarta disulap menjadi kerajaan bisnis keluarga keturunan Tionghoa. Sebuah keluarga pengusaha batik yang tengah berjaya, namun para anggotanya berada dalam intrik perebutan harta dan kekuasaan. Di ambang perpecahan itu, sang anak emas tampil sebagai penyelamat.

Tema klasik perebutan cinta, harta dan takhta itu diramu dalam sebuah pementasan berlatar keluarga kelas menengah modern oleh Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company. Dengan subjudul 'Anak Emas Juragan Batik', pentas 'Kabaret Oriental' melanjutkan konsistensi EKI mengangkat tema-tema sosial yang dekat dengan keseharian.

Seperti lakon-lakon produksi EKI sebelumnya, kali ini pun sederet bintang beken menghiasi panggung. Uli Herdinansyah berperan sebagai sang anak emas juragan batik lulusan sekolah bisnis Harvard, dan Cynthia Lamusu sebagai ibunda yang lembut dan penuh wibawa, yang dihormati anak-anaknya. Tak ketinggalan, Sarah Sechan juga tampil lagi dan seperti biasanya menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sarah, juga Uli, sebelumnya tampil di produksi EKI pada 2010 'Jakarta Love Riot'. Pada 'Kabaret Oriental' kali ini penampilan mereka diperkuat oleh Ary Kirana dengan aksen Manadonya yang mengocok perut ("Menurut ngana?"). Memang, seperti produksi EKI selama ini, 'Kabaret Oriental' menumpukan kekuatannya pada unsur komedi. Cuma, kali ini komedinya "overdosis" sehingga penonton lebih merasa seperti menyaksikan pertunjukan lawak ala Srimulat ketimbang kabaret yang memadukan tari dan nyanyi.

Tentu saja, tarian dan nyanyian tetap menjadi tulang punggung utama 'Kabaret Oriental'. Namun, entah kenapa kali ini EKI terkesan tak sungguh-sungguh menggarapnya. Kecuali tentu saja Cynthia Lamusu, vokal pemain lainnya tak ditangani dengan baik. Demikian juga dengan unsur gerak, tak tampak menonjol sebagai kekuatan pertunjukan.

Bagusnya, EKI mampu memampatkan sebuah pertunjukan kabaret tentang penyatuan kembali sebuah keluarga besar pengusaha keturunan Tionghoa dalam durasi yang tak terlalu panjang (tak sampai dua jam), dengan alur yang enak diikuti. Hanya saja, sekali lagi, porsi lawakannya terlalu banyak, seperti masakan yang kelebihan penyedap. Bahkan ada satu bagian, ketika menampilkan Kelompok Parahita yang terdiri 4 "mbok-mbok" pelawak, yang rasanya berjalan terlalu panjang, seolah tak akan pernah berakhir.

Satu lagi, yang selalu menarik dari EKI adalah konsistensinya mengangkat isu-isu yang mungkin di tempat lain dianggap masih tabu, atau diangkat dengan malu-malu. Dengan kemasan yang glamor dan nge-pop (antara lain lewat musik yang mengakomodasi semua 'aliran' dari rap hingga dandut), pentas-pentas produksi EKI selalu menghibur, tanpa kehilangan daya kritisnya terhadap fenomena kehidupan masyarakat kelas menengah kota yang penuh kepalsuan.

'Kabaret Oriental' dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta mulai Selasa (20/3/2012) malam nanti, hingga 24 Maret 2012 setiap pukul 20.00 WIB.


(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads