'Karna': Yang Diingat dan yang Luput

'Karna': Yang Diingat dan yang Luput

- detikHot
Jumat, 18 Nov 2011 16:22 WIB
Karna: Yang Diingat dan yang Luput
Jakarta - Setelah 'Opera Tan Malaka' dan 'Panji Sepuh', penyair dan budayawan Goenawan Mohamad kembali mempersembahkan sebuah karya panggung. 'Karna', sebuah pertunjukan "empat monolog" dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta Kamis (17/11/2011) malam, hingga Minggu (20/11) setiap pukul 20.00 WIB.

Sesuai dengan judulnya, tokoh dalam lakon tersebut adalah Karna, seorang adipati di kerajaan kecil Awangga, yang merupakan sekutu Kurawa. Namun, jangan bayangkan kehadiran Karna dalam sosoknya yang utuh, sebagai dirinya sendiri.

Memang, ada tokoh Karna di situ, yang diperankan oleh penyair Sitok Srengenge. Namun, sebenarnya ia hanyalah perwujudan dari ingatan orang-orang lain. 'Karna' menampilkan empat tokoh yang masing-masing bermonolog, mengisahkan perjumpaan dan ingatannya pada sosok Karna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panggung dengan pengarah artistik Jay Subiyakto awalnya merupakan sebuah pendopo berundak dengan empat buah pintu. Dengan teknik video mapping, panggung bisa berubah menjadi sungai tempat Radha (Sita Nursanti), istri seorang kusir kereta, menemukan bayi Karna yang hanyut dalam sebuah kotak.

Lalu, adegan berganti-ganti antara Radha, Parashurama (Whani Darmawan) sang guru, Kunthi (Niniek L Karim) sang ibu yang telah membuangnya sejak bayi, dan Surtikanti (Putri Ayudya) sang istri. Empat tokoh itulah yang kemudian menyajikan ke penonton sosok Karna berdasarkan ingatan-ingatan mereka.

Jadi, yang hadir di atas panggung adalah apa yang diingat, oleh keempat tokoh itu, ditambah dengan perkataan Karna lewat surat yang pernah dikirimkan Karna kepada mereka. Dengan demikian, Karna memang tak hadir utuh, sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai apa yang diingat, dan umumnya dengan sedih.

Tak heran jika kemudian banyak hal dari Karna yang luput, tak tersampaikan. Sebab, bagaimana pun ingatan memilih apa yang bisa dijangkaunya, dan memiliki keterbatasan. Begitulah, di tangan Goenawan Mohamad, yang selain bertindak sebagai penulis naskah juga menyutradarai pementasan ini (bersama penyair Iswadi Pratama), Karna menjadi "sosok" (sekali lagi, ia hanya hadir sebagai "yang diingat") yang murung, sedih.

Vokal Sitok yang berwibawa dan penuh kharisma kurang memunculkan sisi Karna yang penuh amarah. Suaranya serba pelan, dan membawa seluruh pertunjukan ini ke dalam "tone" yang lirih. Musik yang dikerjakan Tonny Prabowo pun begitu sunyi, terkesa pelit, sehingga tak memberi emosi.

Sebagai pentas monolog, 'Karna' memang bertumpu pada kekuatan kata-kata, dan di sinilah Goenawan Mohammad sang penyair, sang penulis Catatan Pinggir, hadir. Dari awal penonton sudah mendengar Radha, perempuan dusun itu, begitu filosofis, ketika berkata, "Karna mungkin tak akan kembali. Tapi, apa itu kembali?"

Semua aktor bermain prima, penuh energi dan menghanyutkan. Pada akhirnya, Karna dalam 'Karna' lebih merupakan simbol, yang sengaja dipilih sebagai pijakan bagi para kreatornya untuk mengajukan kembali pertanyaan-pertanyaan. Mungkin tentang kelahiran. Mungkin tentang identitas. Dan, pertanyaan-pernyataan filosofis lainnya.


(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads