Dengan judul yang juga diperbarui, menjadi 'Java War 1825-0000', 'Opera Diponegoro' versi baru akan dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 11 - 13 November 2011. Karya ini merupakan terjemahan teatrikal Sardono atas sosok pangeran Jawa abad ke-19 yang kemudian mengobarkan perang besar yang nyaris membangkrutkan VOC.
'Opera Diponegoro' pertama kali dipentaskan di ajang Art Summit Indonesia 1995 di Jakarta. Dan, setelah itu karya ini telah dipanggungkan sebanyak 15 kali dalam berbagai kesempatan di sejumlah kota, seperti Solo dan Yogyakarta.
Selain tentu saja dimaksudkan untuk menjangkau penonton dari generasi yang berbeda dari yang telah menyaksikan karya ini pada awal penciptaannya, pementasan kembali opera ini juga untuk memperingati hari lahir Pangeran Diponegoro, 11 November.
Sejumlah unsur dari pertunjukan sebelumnya akan tetap dipertahankan, terutama lukisan Raden Saleh berjudul 'Penangkapan Diponegoro' yang ditampilkan sebagai latar panggung. Unsur mistis juga dipertahankan dengan hadirnya tokoh Nyi Roro Kidul.
Secara keseluruhan, 'Opera Diponegoro' dimainkan oleh 7 penari utama, 2 aktor utama, 7 penari pendukung dan 9 aktor pendukung. Koreografi tetap dikerjakan oleh Sardono, dengan pimpinan produksi Ratna Riantiarno.
Iwan Fals akan mengaransemen musik sekaligus menyanyikan lirik-lirik yang disadur dan ditarfsirkan dari Babad Pangeran Diponegoro. Dengan itu, Iwan Fals juga akan diposisikan sebagai narator sekaligus dalang.
Tiket pertunjukan 'Opera Diponegoro: Java War 1825-0000' dibagi dalam empat kelas dengan harga yang berbeda-beda. Masing-masing VVIP β Rp 750.000, VIP β Rp 550.000, Kelas I β Rp 350.000, Kelas II β Rp 150.000.
(mmu/mmu)











































