'Jabang Tetuko' merupakan persembahan dari Saraswati Nusantara, dan akan digelar di The Hall, Senayan City Lantai 8, Jakarta, Jumat dan Sabtu (27-28/5/2011) pukul 20.00 WIB. Disutradarai oleh Mirwan Suwarso yang dikenal sebagai sineas, pertunjukan ini menggabungkan antara wayang orang, wayang kulit dan film.
Dalam satu istilah sederhana, pentas 'Jabang Tetuko' bisa dikatakan sebagai "wayang orang padat". Ini mengingatkan orang pada istilah yang telah lazim sebelumnya, yakni "pakeliran padat" untuk menyebut pentas wayang kulit yang diringkas dari semalam suntuk menjadi 2-3 jam. Tapi, untuk wayang orang yang "normalnya" memang hanya sekitar 2 jam, apa jadinya bila diringkas lagi menjadi satu jam?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Jabang Tetuko' merupakan salah satu lakon paling "rame' dalam pertunjukan wayang orang Jawa. Judul itu merujuk pada seorang bayi yang kelak ketika dewasa menjadi Gatotkaca. Alkisah, sang bayi yang baru lahir dari rahim Arimbi atas perkawinannya dengan Bima itu "dipinjam" oleh para dewa untuk mengalahkan raksasa yang tengah menyerang khayangan.
Memang tidak masuk akal, para dewasa saja tak mampu menghadapi pasukan raksasa itu, apalagi bayi yang baru lahir? Tapi, Batara Guru yakin, bayi Jabang Tetuko dilahirkan untuk mengembalikan situasi khayangan kembali aman dan tenteram.
Berbeda dengan wayang orang konvensional, pada 'Jabang Tetuko' versi Mirwan Suwarso, para pemain memang tetap berdandan lengkap namun mereka sama sekali tidak menari. Mereka keluar-masuk panggung, dan bergerak dengan teatrikal. Iringan musiknya pun bukan gamelan, melainkan musik simfoni yang dikerjakan oleh musisi bule Deane Ogden.
Layar sebesar layar bioskop menjadi background panggung, dan di situlah sesekali muncul adegan film yang sama dengan adegan yang sedang terjadi di panggung. Film itu dibuat Mirwan di Kebun Raya Bogor. Di kanan-kiri panggung masih ada layar lagi, dan di situlah unsur wayang kulit disisipkan, olahan Ki Dalang Sambhowo.
Perhatian penonton menjadi terpecah-pecah, antara adegan di atas panggung yang dimainkan oleh para pemain wayang orang Bharata, dengan layar film dan layar wayang kulit. Namun, ketiganya sebenarnya saling melengkapi, dan saling menegaskan.
Yang paling menjadi persoalan sebenarnya justru dilenyapkannya unsur tari dari seni wayang orangnya, sehingga pertunjukan ini kehilangan potensi keindahannya. Emosi mungkin masih bisa dimainkan dari unsur musik simfoni, namun bagi Anda yang akan menontonnya malam ini atau besok, barangkali akan punya penilaian, apakah musik modern itu cukup menyatu dengan wayang orang minus tari di atas panggung.
Belum lagi durasi yang terlalu pendek, membuat setiap adegan jadi terasa terburu-buru, dan kurang dramatik. Tapi, bagaimana pun, ini memang baru sebuah eksperimen, sebuah upaya awal, yang bertujuan mulia.
(mmu/mmu)











































