Digelar atas kerjasama Centre Culturel FranΓ§ais (CCF) Jakarta dengan Goethe-Institut Indonesien, 'Dysfashional' mempertemukan antara fashion dan seni lewat karya-karya instalasi dan video. Sebelumnya, pameran ini telah digelar di Luxembourg (2007), Lausanne (2008), Paris (2009), Berlin dan Moskow (2010).
'Dysfashional' di Jakarta merupakan yang pertama kali di luar Eropa. Dikuratori oleh Luca Marchetti dan Emanuele Quinz, di Jakarta pameran ini tentu saja menggandeng seniman-seniman lokal. Antara lain Oscar Lawalata, Jay Subiyakto, Davy Linggar dan ruangrupa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun berputar pada tema fashion sebagaimana tampak dari judulnya, namun pameran ini tidak menampilkan busana. Fashion dimaknai seluas-luasnya sebagai eksplorasi atas berbagai bahan yang mengubah mode menjadi sebuah cara yang mewakili identitas dan pengalaman pribadi.
Awalan 'dys' pada 'Dysfashion' merujuk pada "gangguan" dalam sebuah sistem. Gagasan awalnya adalah untuk melihat dimensi yang disfungsional dari dunia fashion, yakni unsur-unsur yang melawan dan bertentangan dengan definisi "literal" dunia fashion itu sendiri.
"Sebagai pameran fashion yang tidak memamerkan pakaian, Dysfashional menunjukkan bahwa fashion melampai objek yang bersifat menjadikannya materi. Fashion adalah suatu sensibilitas yang tidak stabil," Luca Marchetti dan Emanuele Quinz dalam catata kuratorialnya.
Selain menampilkan seni kontemporer yang diwaliki 'Dysfasional', Printemps francais juga menyajikan konser musik, tari, sirkus kontemporer, fotografi hingga kuliner. Festival Seni Budaya Prancis 2011 digelar hingga 24 Juli. Selain di Jakarta, acara ini juga digelar di Bandung, Surabaya dan Yogyakarta.
(mmu/mmu)











































