Terowongan Cahaya Lola Amaria

Terowongan Cahaya Lola Amaria

- detikHot
Sabtu, 07 Mei 2011 15:18 WIB
Terowongan Cahaya Lola Amaria
Jakarta - Lola Amaria mengenakan gaun malam warna putih, dan berfoto di depan karya instalasinya sendiri. Instalasi? Ya, Lola tidak sedang berubah profesi dari sutradara dan produser film menjadi seorang senirupawan. Tapi, ia memang sedang bergabung dengan 16 seniman lainnya yang tengah menggelar pameran bertajuk 'Escapology: Crowd Lite'.

'Escapology: Crowd Lite' adalah sebuah pameran yang diklaim sebagai "lintas media". Berada di bawah payung besar gelaran bernama Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD), 'Escapology' menampilkan karya-karya yang menggabungkan 4 bidang, yakni desaign, art, hotel industry, entertainment dan technology. Acara ini digelar di Grandkemang Hotel, Kemang Raya, Jakarta.

Tema 'Escapology' dan tagline 'Crowd Lite' ditafsirkan dengan unik dan beragam oleh tiap-tiap peserta pameran. Lola Amaria misalnya, lewat karyanya berjudul 'Aku Butuh Cahaya', membentangkan karpet merah di salah satu pintu masuk Hotel Grandkemang. Di ujung karpet merah itu, tepat di depan pintu, Lola membuat terowongan besar berbentuk segienam, berwarna merah pula, yang terbuat dari partisi-partisi plastik yang transparan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di bagian atas terowongan terdapat sejumlah lampu yang menyorot ke karpet merah, dan di salah satu dinding terowongan itu, tepat di bagian tengah, Lola memasang televisi yang memutar film karyanya, 'Minggu Pagi di Victoria Park'.

"Aku mengartikan cahaya sebagai sesuatu yang dibutuhkan orang. Semua orang butuh cahaya, dan kalau di dunia film yang aku tekuni cahaya itu bisa berupa macam-macam, dari misalnya ketenaran, gemerlapnya bintang dan itu aku simbolkan dengan red carpet," papar Lola.

"Tapi hati-hati, cahaya itu tidak hanya bisa berarti harapan, tapi juga jebakan. Yang jelas semua orang mengejar cahaya itu," tambahnya.

Secara umum, 'Escapology' yang diangkat oleh pameran ini merujuk pada upaya-upaya untuk membebaskan diri dalam berkarya dan berekspresi. Lola mungkin sedang mencoba "melarikan diri" dari keluhannya atas kejenuhan perfilman Indonesia saat ini. Sejumlah karya lain menunjukkan "pelarian" itu lewat materi-materi yang unik.

Perupa Hera Permanasari misalnya, memanfaatkan kabel bekas untuk dua karya instalasinya, masing-masing 'My Cable Ball', sebuah bola raksasa yang di dalamnya penuh lampu, dan 'Combination' yang bicara tentang tren daur ulang dimana kabel-kabel bekas yang berwarna-warni diolah lagi menjadi kursi.

Setelah dibuka dengan "video mapping" karya Ari Panuntun dan Itjuk pada Jumat (6/5/2011) malam, 'Escapology' akan digelar untuk umum hingga 17 Juni 2011. Seniman lain yang memamerkan karyanya adalah Anabelle Clarissa, Awan Simatupang, Ayang Kalake, Dharma Prayoga, Diana Nazir, Gembong Wi, Hanafi, Hardiman, Harry Purwanto, Hotma Siahaan, Irawan Karseno, Tari Kunaryo dan Yani M.Sastranegara.

Karya-karya mereka tersebar dari pintu masuk, lobi, lorong-lorong hotel hingga sejumlah kamar di lantai dua.


(mmu/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads