Hal tersebut dikatakan seorang seniman teater, Harris Priadie Bah saat bercerita kepada detikhot tentang kondisi awak teater saat ini, Senin (25/4/2011). Harris yang 100 persen berkecimpung di dunia seni, terutama teater, banyak mendengar curhatan dan melihat kondisi pelaku teater.
"Suasana pelaku teater di Indonesia, terutama Jakarta penuh dengan keprihatinan. Tapi hebatnnya orang teater, kita masih saja di teater," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kehidupan yang sehari-hari dunia teater itu memang kehidupan yang sulit. Memang mereka hanya mengandalkan kerja di teater. Tapi ada juga yang menyambi pekerjaan lain," katanya.
Lebih jelas pria kelahiran 7 Januari 1966 itu menggambarkan hidup pas-pasan dunia teater. Ia mencontohkan Teater Kami yang sudah berusia 22 tahun total produksinya senilai Rp 5-7 juta sekali pementasan. Jumlah tersebut bukan untuk seorang saja, tapi harus dibagi dengan 10 orang kru pementasan 1 judul teater.
"Berapa itu? Bisa dihitung berapa dapatnya perorang. Itu bukan sebulan yah, itu bisa dikerjakan selama 3-5 bulan. Jadi sekitar Rp 1 juta kurang pendapatan awak teater persekali produksi selama 3 bulan," tutur Harris.
Apalagi teater yang ia geluti bersama Teater Kami merupakan teater kontemporer. Lain hal dengan teater yang sifatnya populer (pop) seperti musikal.
"Sekelas Teater Koma yang sudah mendunia saja masih bukan bertujuan mengambil untung dari setiap pementasan. Kebanyakan pemain mereka mempunyai pekerjaan lain di luar teater. Lain lagi teater musikal, itu sudah besar budget-nya. Tapi itu kan beda," kata Harris.
Namun jangan takut menjadi pemain teater. Paling tidak Harris dan kawan-kawannya sudah sadar jika teater di Indonesia belum menjadi trend. Kelompok teater yang bermunculan bergerak dalam tujuan non-profit.
"Ini hebatnya pemain teater, biar hidup sulit. Tapi mereka tetap eksis di dunia teater dan terus tersenyum," ungkap Harris.
Kesulitan hidup pelaku teater akan ia tampilkan di pementasan berjudul 'Gegirangan' pada 28-29 April 2011 pukul 20.00 WIB di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat.
(ebi/ebi)











































