Melihat Sejarah Jakarta di Musikal Betawi 'Sangkala 9/10'

Melihat Sejarah Jakarta di Musikal Betawi 'Sangkala 9/10'

- detikHot
Senin, 18 Apr 2011 12:47 WIB
Melihat Sejarah Jakarta di Musikal Betawi Sangkala 9/10
Jakarta - Satu lagi pementasan yang akan meramaikan jagad teater musikal di Indonesia. Kali ini persembahan dari Abang None Jakarta, sebuah ma adalah Musikal Betawi bertajuk 'Sangkala 9/10'. Sebagai gong untuk memeriahkan ulang tahun Jakarta ke-484 22 Juni 2011 mendatang, musikal ini akan mengangkat panorama sejarah Jakarta.

Musikal Betawi 'Sangkala 9/10' tersebut dimainkan hampir 100 persen oleh Abang None Jakarta dari tahun pertama hingga saat ini. Mereka diaudisi hingga terpilihlah sekitar 70-an pemain, termasuk penari-penarinya. Pentas tersebut akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat pada 6, 7, dan 8 Mei 2011.

Musikal Betawi 'Sangkala 9/10' mengambil latar belakang Jakarta tempo dulu saat masih dikuasai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dengan nama Batavia. Sang sutradara, Adjie NA mengangkat peristiwa pembantaian besar-besaran etnis China pada 9 Oktober 1740.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun tetap ceritanya akan fiksi. Yang kita angkat saat itu adalah bagaimana sifat kepahlawanan kaum-kaum yang melawan saat itu," jelas Adjie saat berbincang dengan detikhot di TIM, Minggu (17/4/2011).

Meski berlatar sebuah peperangan, Adjie tidak menguatkan unsur peperangannya. Hal tersebut dikarenakan ada juga tujuan dalam dirinya ingin menyampaikan pesan anti kekerasan.

"Dalam konteks sekarang itu banyak banget kekerasan. Banyak orang yang gampang melakukan kekerasan, entah dari segi langsung dan lain-lain. Itu yang gue kemas, kekerasan itu bikin orang menderita kok. Makanya gue nggak terlalu banyak kasih lihat adegan berantem," ujarnya.

Pendiri Teater Peqho itu menceritakan sedikit alur cerita 'Sangkala 9/10' yang menonjolkan sisi perjuangan orang Betawi dan kaum etnis China saat itu. Pada tahun 1740 ada sebuah kebijakan VOC yang ingin menanggulangi lonjakan etnis Tionghoa di Jakarta. Caranya dengan membaantai etnis Tionghoa dengan kejam.

"Mereka ditindas, dibuang, dan akhirnya mereka mengungsi di luar Benteng Jakarta. Sementara orang Belanda menyusun rencana bagaimana mengurangi atau menghabisi etnis China. Maka diundanglah orang Betawi dan suku lain di Jakarta untuk ikut serta menjalani misinya tersebut," cerita Adjie.

Tapi ada satu keluarga Betawi yang menolak ikut bergabung. Keluarga tersebut terpelajar dan kritis, dan mampu melihat mana yang salah dan mana yang benar. Mereka memandang kebijakan VOC itu salah. "Maka terjadi perang orang China dan Betawi terhadap VOC," ungkapnya.

Di tengah pergolakan itu ada seorang pemuda dan pemudi yang saling jatuh cinta, Said dan Nian Lihay alias Lili. Namun mereka lain etnis, yaitu Betawi dan China. "Tapi bukan romance-nya yang kita nomorsatukan. Mereka kan sama-sama menghadapi perseteruan itu," jelasnya.

Kendati menampilkan orang-orang Betawi, Adjie tidak ingin terjebak dalam pengkotakan karakter. "Sudah streteotip yang menyebutkan semua perempuan Betawi itu nyablak. Gue nggak mau kayak gitu. Gue mau memberikan realitas dan natural. Sebenarnya kan keluarga Betawi banyak yang nggak nyablak dan banyak yang pintar," jelasnya.

Jadi, akan seperti apa pertunjukan Musikal Betawi 'Sangkala 9/10' nanti? Nyok, kita tunggu!

(ebi/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads