Mari Membuat Teater Musikal yang Menginspirasi & Mendidik

Mari Membuat Teater Musikal yang Menginspirasi & Mendidik

- detikHot
Sabtu, 16 Apr 2011 10:36 WIB
Mari Membuat Teater Musikal yang Menginspirasi & Mendidik
Jakarta - Panggung teater Indonesia bergairah kembali dengan munculnya teater musikal. Apakah teater musikal itu menghibur? Itu pasti. Namun apakah memberikan inspirasi dan mendidik?

Diharapkan sebuah pentas teater itu menyuguhkan tontonan yang spektakuler dengan berbagai intrik atraksi si pemain. Tidak jarang teater tersebut disuguhkan dengan lawakan-lawakan yang mengocok perut penonton, bahkan hingga keluar dari arena pentas.

Membuat tercengang dan tertawa si penonton ternyata belum cukup. Ada misi lain yang seharusnya diperhatikan oleh sang sutradara, yaitu bagaimana cara pementasannya bisa mengubah kehidupan, atau minimal pola pikir si penonton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Misal saja yang dilakukan seorang sutradara Varian Adiguna di D'ArtBeat. Selepas lulus dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kegelisahan Varian tentang teater yang mendidik dan menginspirasi terpecahkan. Ia berkomitmen membuat pentas-pentas teater drama ataupun teater musikal yang tidak hanya menyuguhkan hiburan semata. Dalam cerita-cerita yang ia tulis, pria kelahiran 20 Oktober 1959 itu berkomitment memberikan inpirasi dan pendidikan lewat panggung.

"Begini setiap orang bikin teater, memang ada satu pesan yang disampaikan. Aku itu ingin drama di atas panggung itu mengubah hidup manusia, bukan hanya hiburan semata. Begitu orang pulang, mungkin nggak ingat lagi sama judulnya, tapi pesannya," kata Varian yang ditemui detikhot di kantornya di Jalan Kelinci Raya, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (15/4/2011).

Itu bukan hanya sekadar ucapan semata, semenjak 2003 aktif di D'ArtBeat, Varian menjadi sutradara yang idealis. Ia menyajikan cerita-cerita seperti 'Pulang', 'Mutong Sahabatku', 'Satu Kata yang Tertunda', dan 3 cerita lainnya.

Varian yang detikhot temui bersama ketua harian Drama Musikal 'DIVA' Grace Kusno menceritakan contoh drama yang pernah ia pentaskan dan memberikan inspirasi.

Sebut saja misalnya 'Satu Kata yang Tertunda' yang dipentaskan 2010 lalu. 'Satu Kata yang Tertunda' diangkat dari cerita nyata dari sebuah postingan tak dikenal. Postingan tersebut menceritakan ada seorang perempuan China yang terlahir cacat dan dianggap tak berharga dan pembawa sial. Mei Chen, nama perempuan itu sebenarnya kelahirannya tidak inginkan.

Tangan dan kaki kanannya cacat karena proses upaya ibunya ingin menggugurkan saat dalam kandungan. Sampai lulus SMA, Mei Chen merasakan cibiran karena tak diterima, bahkan sama ibunya sendiri. Namun nyatanya Mei Chan menjadi orang berhasil setelah hijrah dari Kalimantan dan dirawat seorang nenek di Yogyakarta.

Ibunya pun terkena stroke, dan ingin mengatakan sesuatu sebelum dirinya meninggal. Namun Mei benci dengan ibunya itu, sampai ia tahu ibu kandungnya ingin meminta maaf.

"Penyesalah terlambat, ibunya meninggal. Dan Mei Chan menangis di depan mayat ibunya itu setelah membaca satu kata yang ditulis ibunya dalam secarik kertas," cerita Grace.

Ada yang dipetik dari cerita tersebut untuk jangan sekali-kali membenci ibu pada saat apapun. Setelah pementasan tersebut Grace mendengar banyak penontonnya yang menangis dan meminta maaf kepada ibunya karena entah mengapa.

Cerita inspiratif yang sama terjadi di 'Motong Sahabatku'. Pementasan tersebut menyampaikan pesan tentang arti persahabatan.

"Sekarang itu kan banyak yang bermusuhan hingga benar-benar benci dan nggak maafin. Nah, kita membuat pementasan itu dikarenakan agar mereka-mereka yang bermusuhan yah baikan lah. Ada juga yang baikan dan berdamai," ungkap Grace lagi.

Namun baik Grace dan Varian mengaku sangat sulit menyuguhkan pentas teater yang menginspirasi dan mendidik. Bukan sulit membuat ceritanya, namun banyak hal teknis yang harus dihadapi. Kalau cerita, banyak sekali yang bisa diangkat dari realita kerasnya hidup di Jakarta, atau umumnya Indonesia.

"Mencari sponsor, biaya, dan lain-lain. Kita pernah rugi," kata Varian yang menerangkan bagian tersulit membuat teater.

Varian pun mengakui teater belum menjadi sebuah industri yang bisa menghasilkan uang. Jika bukan karena komitmen, teater tidak akan berjalan.

"Maka itu, teater itu tidak bisa dijadikan yang menghasilkan uang. Pemain teater lainnya juga banyak yang mempunyai pekerjaan tetap kok. Tapi saya sendiri berkomitmen untuk membuat pentas-pentas yang bukan hanya menghadirkan hiburan, tapi juga menginspirasi dan mendidik," tutup Varian dengan Grance yang mengamini ucapan rekannya itu.

(ebi/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads