Dia muncul memenuhi undangan perdamaian yang difasilitasi oleh Fadli Zon. Pria berjenggot ala Osama Bin Laden itu muncul dengan busana nyentrik khas seniman. Kain batik yang diikatkan sebagai blankon di kepala dan celana pencak silat.
Datang dari Ngawi, Jawa Timur, dia mengaku sebagai seorang petani, dengan lahan seluar 7 hektar yang ditanami tumbuhan organik seperti padi, jamu-jamuan, dan buah-buahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga banyak menulis opini di media massa, tentang masalah sosial, politik dan budaya," kata pria kelahiran 9 Agustus 1965 itu saat berbincang seusai acara perdamaiannya dengan Taufiq Ismail di Fadli Zon Library, Benhil, Kamis, Jakarta (14/4/2011).
Meski suka menulis, sebenarnya jenjang pendidikan Bram hanya sampai SMA. Ia pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta, namun hanya bertahan selama 9 hari. Bram kemudian menghabiskan masa mudanya di Bengkel Teater Rendra.
"Di sana saya banyak belajar tentang hidup disiplin, untuk diterapkan dalam segala bidang," katanya yang setelah itu langsung menjajal menjadi wartawan radio berkelas internasional sekitar awal 90-an.
Lalu setelah itu, Bram juga sempat menullis puisi yang akhirnya dinyanyikan oleh Iwan Fals dan Sawung Jabo. Tiga anaknya sudah besar dan saat ini berada di Inggris.
(ebi/mmu)











































