Teka-Teki Puisi 'Kerendahan Hati'

Teka-Teki Puisi 'Kerendahan Hati'

- detikHot
Kamis, 14 Apr 2011 17:38 WIB
Teka-Teki Puisi Kerendahan Hati
Jakarta - Awalnya adalah "temuan" sebuah puisi berjudul 'Kerendahan Hati' di sebuah soal di buku pelajaran sekolah. Di bawah judul itu tercantum nama Taufik Ismail (pakai 'K'). Lalu, muncullah tuduhan bahwa puisi itu jiplakan dari  karya penyair Amerika Serikat Douglas Malloch berjudul 'Be the Best of Whatever You Are'.

Apakah Taufik Ismail pakai 'K' itu sama dengan Taufiq Ismail (pake 'Q') yang dikenal sebagai penyair angkatan 66? Masalahnya, Taufiq Ismail pakai 'Q'-lah yang menjadi korban tuduhan plagiarisme itu. Meskipun perdamaian akhirnya tercapai antara Taufiq Ismail dan penuduhnya, Kamis (14/4/2011), namun puisi yang menjadi pemicunya masih tetap teka-teki.

Ketika isu tersebut bergulir dan ramai dibicarakan di media online, terutama Facebook, Taufiq tengah disibukkan dengan beberapa masalah di dunia sastra. Utamanya, pertama soal terancam tutupnya Majalah Sastra 'Horison' karena habisan modal, dan kedua soal PDS HB Jassin yang juga terancam tutup karena kekurangan dana. Dua masalah itu cukup menyita waktu dan pikiran Taufiq sebagai pemilik yayasan yang mengurusi kedua lembaga itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Taufiq pun mulai mencari dan memastikan apakah dirinya pernah menulis puisi 'Kerendahan Hati' yang diributkan itu. "Saya bilang nanti dulu, saya belum bisa bicara. Pas saya baca berita, saya disebut mengelak. Nah ini kan saya perlu waktu untuk mengecek, betul-betul cek. Sebelum saya mengeluarkan 'kayaknya saya pernah menulis'," ujarnya.

Hal pertama yang dilakukan Taufiq adalah mencari nama Douglas Malloch dalam buku kumpulan puisi terjemahan karya penyair-penyair Amerika Serikat yang disusunnya. Dalam buku yang berisi 162 puisi itu ternyata tidak ada nama Douglas Malloch. Lalu Taufiq pun mengecek karya-karya puisi terjemahan lainnya yang pernah ia buat.

Hasilnya sama, tidak ada puisi berjudul 'Kerendahan Hati'. "Kemudian saya ingat-ingat, kan banyak sekali diskusi-diskusi yang saya ikuti 12 tahun terakhir ini dari Majalah Horison," ujarnya. Lalu, Taufiq menjelaskan  soal diskusi-diskusi yang dimaksud. Program tersebut membawa sastra ke sekolah.

Nah, saat itu Taufiq mengaku pernah menyebut salah satu penggalan lirik dari puisi 'Kerendahan Hati' itu. Potongan itu adalah "kalau tidak bisa menjadi pohon di perbukitan, jadi sajalah rumput di dataran rendah". "Tapi saya tidak mengklaim itu puisi saya, dan saya tidak mengklaim menerjemahkannya," jelasnya.

Usut punya usut tenyata kini puisi 'Kerendahan Hati' itu ada di buku 'Terampil Berbahasa Indonesia' Kelas 8 SMP/MTs yang diterbitkan dalam buku digital oleh Diknas. Dalam buku yang dikarang tahun 2008 tersebut, puisi 'Kerendahan Hati' terdapat di dalamnya dengan dijadikan soal latihan. Sayangnya, 3 pengarang buku itu, Dewahi Kramadinata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto tidak menyebutkan sumber puisi tersebut.

Dari mana datangnya puisi tersebut? Taufiq Ismail pun belum menemukan jawabannya.


(ebi/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads