'86'? Judul ini mungkin mengingatkan Anda pada karya George Orwell, '1984', yang sama-sama menunjuk angka. Namun, bedanya, jika '1984'-nya Orwell merujuk pada angka tahun, '86'-nya Okky merujuk pada sebuah kode yang populer di kalangan penegak hukum.
Awalnya, istilah 'delapan enam'Β digunakan dalam bahasa radio para polisi, yang maknanya "informasi sudah diterima". Namun, belakangan, istilah yang sama dipakai oleh para praktisi bidang hukum untuk menyebut kasus yang sudah beres, sudah diselesaikan dengan uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atasannya, Bu Danti, adalah sosok yang mewakili apa yang belakangan dikenal masyarakat sebagai "makelar kasus". Para pengacara harus "berdamai" dengannya jika kasus yang mereka tangani ingin selesai dengan cepat, dan berakhir bahagia bagi semua.
Sebagai pegawai baru, awalnya Arimbi bingung dengan "sistem" semacam itu. Namun, lambat-laun, tanpa benar-benar disadarinya, ia terseret dalam arus yang menjebloskannya dalam kesulitan. Ia menyalahkan Bu Danti untuk semua itu, namun tetap saja tak berdaya menghadapi sebuah penyelewengan yang sedemikian "mapan", sistematis, dan menggurita.
Novel ini menjadi proyek kedasaran bagi masyarakat yang barangkali belakangan lebih banyak disuguhi kisah-kisah tentang mimpi. Novel '86' merupakan karya kedua Okky, mantan wartawan yang kini mengajar di Universitas Paramadina. Novel pertamanya, 'Entrok' mendapat sambutan positif dari kalangan kritikus dan masyarakat luas.
Lewat '86', Okky mengembalikan tradisi sastra sebagai perlawanan terhadap ketimpangan dalam masyarakat. Khususnya berkaitan dengan isu korupsi, Okky telah melanjutkan apa yang pernah "diperjuangkan" antara lain oleh Ramadhan KH (misalnya lewat novel 'Ladang Perminus') dan Satyagraha Hoerip lewat hampir semua cerpennya.
Lewat tokoh sederhana Arimbi yang polos, novel ini membangkitkan kritisisme masyarakat. Bahwa, korupsi yang sudah mendarah-daging, dan menjadi "sistem" itu sendiri di berbagai instansi pemerintah, harus terus-menerus dilawan.
"Pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan berbagai cara. Selain yang sifatnya penegakan, yaitu menghukum yang bersalah, pencegahan juga harus dilakukan. Terutama dengan menumbuhkan kesadaran," ujar Okky kepada detikhot.
Okky percaya, sastra merupakan salah satu medium yang paling efektif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. "Apalagi di tengah bombardir berita yang sifatnya hanya jangka pendek," tambahnya.
Dari sisi artistik, Okky menuturkan ceritanya dengan bahasa yang lugas, tanpa bunga-bunga, namun tetap terasa kuat. Sisipan kisah cinta dalam kehidupan Arimbi memberi warna pada novel ini, sehingga tidak melulu beraroma "perlawanan".
(mmu/mmu)











































