Renungan di Hati 3 Penyair Sumatera-Jawa

Renungan di Hati 3 Penyair Sumatera-Jawa

- detikHot
Senin, 28 Mar 2011 09:29 WIB
Renungan di Hati 3 Penyair Sumatera-Jawa
Jakarta - Aku tak ingin kegelapan merendahkan matahari.
Biarkan sajaknya menjelma cahaya.
Melebihi terangnya selaksa tata surya
.

Petikan puisi tersebut berjudul 'Cahaya, Masuklah dalam Sajakku'. Puisi tersebut torehan tangan seorang penyair asal Aceh, D Kemalawati yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi '3 DI HATI'.

D Kemalawati bersama 2 penyair lain, Diah Hadaning yang berasal dari Jepara dan Dimas Arika Miharja dari Jambi mengajak merenung lewat puisi-puisinya. Tentu renungan itu pun masing-masing terasa berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diah, Dimas, dan Kemalawati dipertemukan pada November 2010 di Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang. Di sana mereka temu kangen dengan penyair dan sastrawan Indonesia lain. Sebenarnya mereka bertiga sudah berteman sejak lama, namun sangat jarang bertemu karena dipisahkan oleh jarak.

Mereka pun memutuskan untuk membuat pertemuan mereka abadi. Caranya Diah, Dimas dan Kemalawati berkolaborasi dengan menyuguhkan puisi-puisi mereka dalam sebuah buku.

Maka itu tercetaklah buku '3 DI HATI' yang diambil dari inisial nama mereka. Diah, dimas arika miHArja, dan d kemalawaTI. Meski sama-sama penyair, mereka menulis puisi dengan rasa berbeda.

"Masing-masing mempunyai warna, misal saya merah yang berarti puisi saya berapi-api. Kalau Kemalawati itu hijau, lebih membumi, dan Ibu Diah itu kuning, tenang dan damai," tutur Dimas saat berbincang dengan detikhot di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (25/3/2011) malam.

Tidak hanya itu, temanya pun berbeda. Misal saja, apa yang sampaikan dengan Dimas. Penyair kelahiran 3 Juli 1959 itu banyak menyampaikan pengalaman sehari-harinya. Mulai dari permasalahan pribadi sampai lingkungannya.

Lain lagi dengan yang disampaikan Kemalawati. Ia lebih mengeksplor hubungannya dengan Tuhan. "Itu yang membedakan, tapi bisa juga dipersepsikan hubungan saya dengan manusia. Karena ada juga yang bertema cinta," papar Kemalawati.

Meski demikian, satu tujuan yang mereka akan sampaikan di buku yang terdapat 99 puisi itu. Mereka ingin menyampaikan dan mengajak pembacanya untuk merenung soal berbagai bencana yang terjadi di Bumi Pertiwi.

Dimas menyebutkan banyak bencana alam yang terjadi, banyak juga persoalan negara yang semakin kacau. Sehingga banyak juga manusia Indonesia yang lupa akan sebuah renungan.

"Mengapa tidak semangat berapi-api dengan tenang, dan menuju ke bumi? Mari merenung dengan semua cobaan. Bangkit dan terus berjalan ke depan," ajak Dimas.

(ebi/yla)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads