Amorphous mengandung makna penyataan tanpa bentuk. "Dia selalu menghindar kalau di-judge. Berdasarkan pertimbangan visual, saya menyepakati memberi judul itu. Ya sudahlah karya saya tidak perlu diartikan dengan mengajukan pertanyaan gambar apa itu?" papar Rieswandi ketika ditemui detikhot di lokasi pameran karyanya.
Pelukis yang selalu menguncir rambutnya itu adalah jebolan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Gambar-gambar yang ditorehkannya di atas kanvas sekilas seperti objek dalam mikroskop. Detail, tajam namun tak beraturan. Awalnya Rieswandi memindahkan bentuk-bentuk yang realistis, semisal rumah dan kuda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik itu semua, sebenarnya ada benang merah yang ingin dituangkan Rieswandi, yaitu kecintaannya terhadap alam. Dan, sikap itu tercermin dari bahan-bahan yang dia gunakan untuk berkarya. Filosofinya mengikuti tumbuh-tumbuhan. Seperti apa itu?
"Filosofi flora, diam dan melayani makhluk hidup. Dia tidak pernah merusak, bahkan manusia yang merusak. Jadi, pesan global lebih ke pelestarian alam, soalnya saya banyak menggunakan bahan organik, bagaimana menghargai alam sebagai tempat kita bernaung di dalamnya," papar Rieswandi.
(mmu/mmu)











































