PDS HB Jassin dan Nasib Para Penjaga 'Taman Sastra Indonesia'

PDS HB Jassin dan Nasib Para Penjaga 'Taman Sastra Indonesia'

- detikHot
Selasa, 22 Mar 2011 22:20 WIB
PDS HB Jassin dan Nasib Para Penjaga Taman Sastra Indonesia
Jakarta - Pagi-pagi sekali Agung Tri Anggono berangkat dari rumahnya di kawasan Bekasi, Jakarta Timur menuju tempat kerjanya di Pusat Dokomentasi Sastra (PDS) HB Jassin, di Cikini, Jakarta Pusat. Ia naik angkutan umum menuju lokasi di kompleks Taman Ismail Marzuki itu.

Agung adalah salah satu karyawan PDS HB Jassin. Ia bertugas sebagai staf pengolahan buku dan dokumentasi sastra HB Jassin. Pria berkulit gelap yang usianya sekitar 40 tahun itu harus sampai ke tempat kerjanya sebelum pukul 09.00 WIB, ketika PDS mulai buka melayani pengunjung, sampai pukul 15.00.
Sesampainya di PDS HB Jassin yang tempatnya 'ngumpet' di belakang Gedung Planetarium, Agung langsung bekerja di ruangan seluas kira-kira 500 meter persegi itu. Ia telah bekerja di situ selama 20 tahun. Tugasnya mencarikan buku atau pun dokumen lain yang dibutuhkan oleh pengunjung. Agung lebih suka disebut sebagai orang yang mengabdi untuk PSD HB Jassin, dan bukan bekerja.

"Saya lakukan semua dengan kesenangan. Ini sebuah pengabdian untuk dunia sastra. Saya senang karena bersahabat dan berteman dengan banyak buku," kata Agung dalam perbincangan dengan detikhot, Selasa (22/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengabdi selama 20 tahun di pusat domentasi sastra terlengkap di Indonesia itu, status Agung adalah pegawai honorer. Terakhir, gajinya Rp 950 ribu per bulan. Ia menghidupi 4 orang anak.

"Tapi tak apa, saya senang meski kebutuhan hidup sangat minim. Ini mengabdi karena sukarelawan. Saya tidak pindah (pekerjaan) karena cinta sama pekerjaan. Ada juga keterbatasan umur, pekerjaan lain belum tentu diterima," katanya sambil tersenyum.

Makanya Agung termasuk yang cukup was-was saat PDS HB Jassin berada dalam kondisi yangΒ  memperihatinkan. "Ayolah pemerintah memperhatikan, ini bukan untuk saya dan karyawan. Ini untuk ilmu, di sini surga ilmu. Masih banyak yang mau ke sini untuk mencari bahan penelitian atau membuat tugas," serunya.

Berbeda dengan Agung, karyawan PDS HB Jassin lainnya yang bernaa ma Sularto sedikit lebih beruntung. Pria berusia 43 tahun itu sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan penghasilan yang tentunya lebih besar dari Agung. Tapi, bukan berarti Sularto tenang-tenang saja dengan kondisi PDS HB Jassin saat ini.

Sama, dasar cinta sastra yang membuat pria yang sudah beruban itu sedih dan gusar saat mendengar PDS HB Jassin terancam tutup. Banyak pengalaman dan peristiwa yang tidak akan ia lupakan. Terutama, kesempatan berada di antara sumber ilmu dan banyak bercengkrama dengan pengunjung.

"Saya khususnya dengan pengunjung di sini sudah sangat santai-santai. Saya suka bercanda dan akrab dengan pengunjung. Apalagi saya banyak membaca buku-buku," jelas pegawai bagian sirkulasi buku itu.

Sularto bertugas mengambil buku yang diminta pengunjung; 25 ribu buku yang berjajar di 60 lebih rak harus ia telusuri untuk menemukan buku yang akan dipinjam pengunjung. Sulitnya, buku yang tersimpan tersebut tidak urut menurut kategori, alias berantakan. Tapi, itu tidak sulit bagi Sularto yang 15 tahun lebih "berumah" di situ.

"Saya hafal letaknya. Semua saya tahu, meski berantakan dan tidak urut," ungkapnya.

Agung dan Sularto adalah dua dari 14 karyawan PDS HB Jassin, yang 5 di antaranya sudah berstatus PNS. Mereka bertekad untuk terus memperjuangkan kelangsungan hidup PDS HB Jassin karena kecintaan mereka pada Sastra Indonesia.

(ebi/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads