Masa-masa itu tidak pernah dilupakan Aries. Ketoprak Kopyok Campur Sari, grup yang ia gawangi, selalu ditungu-tunggu oleh pengunjung TMII. Pentas yang ia gelar sebulan sekali itu selalu dipadati. Aries dan kakaknya, almarhum Timbul selalu bersemangat setiap pementasan. Cerita, dekorasi panggung, sampai kostum disiapkan dengan detail. Bahkan khusus cerita ia selalu mengadakan riset terlebih dahulu agar tidak keliru saat dipentaskan.
"Waktu itu sangat populer, ini di Jakarta saja loh yah. Banyak seniman-seniman daerah yang datang membantu dan itu bisa menghidupi mereka," kenang Aries saat ditemui detikhot di Jakarta, Selasa (15/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang, Aries hanya bisa bertanya. "Di Jakarta, mau main ketoprak di mana? Sewa gedung pertunjukan saja sangat mahal. Kalau pun main di lapangan terbuka, perizinannya sangat sulit," keluhnya.
Ketika dikejar, berapa biaya sewa gedung pertunjukan di Jakarta, Aries menyebut angka Rp 20 juta. "Mau mengandalkan tiket saja susah banget, nggak mungkin hasil penjualan tiket itu bisa membayar uang gedung. Wong untuk kebutuhan pemain aja belum tentu," ujarnya.
"Jadi bisa dibilang, ketoprak aja itu hampir punah. Tempat mainnya saja nggak dikasih," tambah Aries yang mengaku telah merasakan hal tersebut sejak era 80-an.
Lahir di Surabaya pada 29 April 1948, Aries memang berasal dari keluarga seniman ketoprak. Ia bercerita, ibunya tetap bermain ketoprak saat mengandung dirinya.Β Aries sendiri sudah menjadi sutradara ketoprak pada usia 20 tahun. Ia dan timnya selalu memperhatikan minat penonton di setiap masa, untuk kemudian memberikan variasi cerita dan inovasi dalam musik.
(ebi/mmu)











































