Dua Hal yang Bikin Teater Koma Bertahan

34 Tahun Teater Koma (3)

Dua Hal yang Bikin Teater Koma Bertahan

- detikHot
Senin, 07 Mar 2011 19:05 WIB
Dua Hal yang Bikin Teater Koma Bertahan
Jakarta - Mempertahankan keutuhan dan kelangsungan hidup sebuah kelompok teater hingga berusia kepala tiga bukankan perkara yang mudah. Teater Koma mampu menorehkan prestasi itu. Apa rahasianya?

Pendiri sekaligus sutradara setiap pementasan Teater Koma, Nano Riantiarno menjawab pertanyaan tersebut. Caranya hanya dua, yaitu perhatikan anggota dan penonton.

Nano boleh jadi merasa beruntung karena memiliki anggota yang loyal dan setia. "Itu dari angkatan 1977 masih ada, kebanyakan anggota Teater Koma sudah lebih dari 20 tahun. Sebenarnya apa sih yang mereka dapatkan?" tanya Nano retoris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kuncinya, Nano sangat terbuka soal pemasukan berupa materi dari hasil pertunjukan Teater Koma. Sebagai pimpinan produksi, Nano tidak berani 'main-main' dengan uang yang merupakan hak anggotanya, yang menurutnya jumlahnya sangat kecil.

"Saya biasa menyebutnya uang permen, karena masih sangat kecil. Tidak layak dikatakan honor," ujarnya.Β  Namun meski begitu, masih saja ada anggota Teater Koma yang sudah mapan di dunia film atau sinetron, akhirnya kembali lagi ke panggung.

"Itu berarti ada yang mereka dapatkan kan? Makanya balik lagi?" ujarnya.

Faktor kedua yang menopang sukses Teater Koma adalah penonton. Sama seperti para anggota teaternya, penonton Koma pun sangatlah setia. Nano memperkirakan, 40 persen orang yang menonton Teater Koma pada era 2000-an adalah penonton lama.

Mereka sudah menikamati Teater Koma sejak 1977, ketika Koma pertama kali berdiri dan mementaskan karyanya. Mereka secara turun-temurun memperkenalkan Teater Koma.

"Dulu itu ada orang yang biasanya nonton sama anaknya. Nah anaknya sudah kawin dan sekarang itu nonton sama suami dan anaknya. Sisanya itu penonton baru," Nano memberikan ilustrasi.

Ada pengalaman unik yang tak pernah dilupakan Nano soal setianya penonton Teater Koma. Pada 1992, Nano secara tak sengaja bertemu dengan seorang pria. Pria tersebut mengaku penonton setia Teater Koma.

"Laki-laki paruh baya dengan istrinya salaman sama saya. Dia berkata 'Pak Riantiarno, baru sekarang saya berhadapan dengan Anda, saya senang," ceritanya.

Nano pun bertanya, "Bapak siapa?" Pria itu mengaku mengikuti Teater Koma sejak pementasan 'Maaf, Maaf, Maaf' pada 1978. Saat itu pria tersebut berpangkat Letnan TNI yang tengah bertugas mengawasi pementasan tersebut, dan kemudian mencekalnya.

"Sekarang saya pensiunan. Saat itu saya nonton saat tugas, dan saya senang. Lalu saya bawa istri saya dan istri saya senang. Sekarang saya ajak anak saya, karena saya sekarang senang bukan sebagai petugas yang melaporkan, tapi sebagai orang bebas," kenang Nano menirukan penuturan pria tersebut.

Selain itu, sikap loyal penonton Teater Koma pun dilihat Nano sebagai hal yang menarik. Bayangkan saja, antara tim produksi pementasan dengan penonton bisa terjalin komunikasi dua arah.

Suatu waktu ada penonton Teater Koma yang berkomentar 'jelek' pada tiga judul pementasan. "Dia tanya, bagaimana pementasan berikutnya? Kalau jelek dia nggak mau nonton lagi," kata Nano.

Tapi, akhirnya orang tersebut melalui telepon berkata tidak jadi stop menonton pementasan Teater Koma. Sampai saat ini, anggota Teater Koma sudah memasuki generasi ke-3. Sedangkan penontonnya sudah empat generasi.

(ebi/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads