"Pentas Sie Jin Kwie Kena Fitnah ini merupakan bagian dari gelisahan kita bersama saat ini atas kondisi bangsa Indonesia," ujar Nan Riantiarno, sang sutradara. Namun, pendiri angkatan pertama Teater Koma itu menepis jika pementasan itu diniatkan untuk menyindir.Β "Semua terjadi begitu saja," katanya.
Namun, diniatkan atau tidak, kalau pun hasilnya memang terasa seperti itu, Nano menyerahkannya pada penonton. Yang jelas, Nano tidak menolak jika nasib yang dialami tokoh utama Sie Jin Kwie juga banyak dialami oleh pejabat negara yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Sie Jin Kwie dalam lakon Teater Koma tersebut tetap tenang dengan segala fitnah yang menderanya. Ia berkeyakinan kalau firnah itu tidak benar, dan tidak perlu dilawan, karena jika dilawan malah akan menimbulkan persoalan baru. Jin hanya menunggu keadilan dan berusaha pelan-pelan meyakinkan raja dengan kebenaran yang perlahan akan terbuka.
Lewat adegan-adegan dengan dialog penuh guyon, Nano sengaja menyelipkan beberapa kasus dan idiom-idiom dari dunia politik yang populer di republik ini. Misalnya, kasus Gayus, rencana membangun fasilitas spa di gedung baru DPR nanti, hingga slogan 'Lanjutkan' yang khas dari Presiden.
(mmu/mmu)











































