Pentaskan Lakon Cina Klasik, Teater Koma Sindir Kondisi Bangsa

Pentaskan Lakon Cina Klasik, Teater Koma Sindir Kondisi Bangsa

- detikHot
Jumat, 04 Mar 2011 11:18 WIB
Pentaskan Lakon Cina Klasik, Teater Koma Sindir Kondisi Bangsa
Jakarta - Teater Koma kembali mementaskan produksinya, kali ini dalam rangka hari jadinya yang ke-34. Pentas bertajuk 'Sie Jin Kwie Kena Fitnah' itu mengangkat situasi politik di daratan Cina masa Dinasti Tang yang penuh dengan intrik kejam. Namun, bukan Teater Koma kalau tidak nakal. Terasa sekali bahwa lakon tersebut sebenarnya menyindir kondisi bangsa sendiri.

"Pentas Sie Jin Kwie Kena Fitnah ini merupakan bagian dari gelisahan kita bersama saat ini atas kondisi bangsa Indonesia," ujar Nan Riantiarno, sang sutradara. Namun, pendiri angkatan pertama Teater Koma itu menepis jika pementasan itu diniatkan untuk menyindir.Β  "Semua terjadi begitu saja," katanya.

Namun, diniatkan atau tidak, kalau pun hasilnya memang terasa seperti itu, Nano menyerahkannya pada penonton. Yang jelas, Nano tidak menolak jika nasib yang dialami tokoh utama Sie Jin Kwie juga banyak dialami oleh pejabat negara yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada orang yang difitnah, lalu marah dan membalas dengan berbagai tuduhan juga. Orang itu gelisah, tapi mengapa? Mungkinkah dia melakukan apa yang difitnahkan? Ada juga orang yang difitnah, namun diam-diam saja dengan berpikir, 'ya sudahlah, kan saya tidak melakukan'. Dua orang tersebutlah yang ada di Indonesia," papar Nano.

Sementara, Sie Jin Kwie dalam lakon Teater Koma tersebut tetap tenang dengan segala fitnah yang menderanya. Ia berkeyakinan kalau firnah itu tidak benar, dan tidak perlu dilawan, karena jika dilawan malah akan menimbulkan persoalan baru. Jin hanya menunggu keadilan dan berusaha pelan-pelan meyakinkan raja dengan kebenaran yang perlahan akan terbuka.

Lewat adegan-adegan dengan dialog penuh guyon, Nano sengaja menyelipkan beberapa kasus dan idiom-idiom dari dunia politik yang populer di republik ini. Misalnya, kasus Gayus, rencana membangun fasilitas spa di gedung baru DPR nanti, hingga slogan 'Lanjutkan' yang khas dari Presiden.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads