Menurut Anton, sebagian besar karya yang masuk adalah novel-novel yang akan tumbang pada halaman-halaman awal karena gagal mengikat pembaca untuk terus melanjutkan pembacaan. "Memang, ada beberapa cerita mampu menyajikan pembukaan yang menarik, tapi kemudian berkembang menjadi lanturan yang bertele-tele dan kehilangan arah," kritiknya.
Lalu, naskah seperti apa yang potensial untuk memenangkan sebuah sayembara menulis novel?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal kedua yang perlu diperhatikan oleh para penulis novel menurut Anton adalah soal membaca. "Sejumlah besar naskah menunjukkan kepada kita bahwa para penulisnya kurang membaca, atau kurang meluaskan minat terhadap bacaan. Ini berakibat pada miskinnya strategi literer yang mereka gunakan untuk membangun cerita," ujarnya.
Dengan kata lain, dia memperjelas, kebanyakan dari mereka menulis dengan rujukan yang amat terbatas dalam hal teknik penceritaan, gaya bertutur, dan dalam mengupayakan berbagai kemungkinan bentuk. Sebagaimana dalam urusan-urusan lain, Anton menyarankan, dalam penulisan pun perlu belajar banyak dari orang-orang yang lebih dulu.
Satu lagi tips dari Anton Kurnia: jangan menjadikan sebuah karya sebagai kendaraan pengangkut dakwah, baik dakwah agama maupun dakwah sekuler, sehingga terasa bahwa para penulis hanya menunggangi cerita dan setiap karakter di dalamnya untuk kepentingan mereka sendiri, yakni menyampaikan petuah dan ajaran.
"Tentu saja niat apa pun dibolehkan dalam penulisan. Namun, setiap cerita yang baik selalu memperlihatkan penulisnya memiliki kematangan teknis dan kepiawaian mengolah bahan dengan seluruh kecakapan dan pengetahuan yang ia miliki. Setiap cerita yang baik selalu menjadi dunia rekaan yang layak dipercaya. Ia valid dan realistis menurut logika cerita itu sendiri, bahkan sekalipun yang diceritakan itu dunia yang absurd atau kejadian-kejadian yang serba fantantis," jelasnya.
(mmu/mmu)











































