'Di Bawah Lindungan Kabah': Sekadar Cinta Menye-menye?

Ekky Imanjaya - detikhot
Selasa, 06/09/2011 14:26 WIB
Halaman 1 dari 2
http://us.images.detik.com/content/2011/09/06/218/kabah-dlm.jpg
Jakarta -
Ketika orang membahas film terbaru Hanny Saputra 'Di Bawah Lindungan Ka’bah' (DBLK), maka pembicaraan pun berfokus pada soal "product placement" yang ngawur. Bagaimana bisa di Padang pada 1920-an sudah ada Gerry Cholocatos, Kacang Garuda, dan Baygon?

Tentu saja pembahasan soal desain produksi ini menarik. Film berlatar sejarah perlu penanganan desain produksi khusus. Jika salah, maka rusaklah konsep sejarahnya. Walau pun, agar adil, kita harus akui bahwa setting 1920-an digarap dengan cukup apik, mulai dari busana, cara surat-menyurat, pernak-pernik seperti jam dan piring, stasiun di masa Belanda, dan khususnya Masjidil Haram era itu.

Wajarlah, bujetnya, menurut pengakuan produsernya, mencapai Rp 25 miliar. Dan dari sinematografi besutan Ipung Rachmat Syaiful, film ini sangat memuaskan dan dapat menghadirkan suasana Sumatera dan Mekkah di era kolonialisme. Sayangnya, ada satu hal fatal lainnya yang merusak konsep "film period": lagu Opick yang terdengar modern.

Cukup dengan berbagai elemen pendukung. Bagaimana dengan cerita? Apakah ruh HAMKA yang hadir di novelnya masih terjaga di filmnya? Sebelum menjawab, mari kita lihat alur ceritanya. Intinya adalah kasih tak sampai. Hamid (Herjunot Ali) adalah seorang pemuda yang sopan, intelek, dan tampan. Masalahnya, ia dan ibunya (Jenny Rachman) orang miskin dan bekerja pada Haji Jafar (Didi Petet) orang kaya di kampungnya, yang mempunyai putri cantik bernama Zainab (Laudya Cyntia Bella).

Zainab dan Hamid saling mencintai, tapi perbedaan kelas tentu tak bisa mereka lawan. Apalagi Zainab akan dijodohkan dengan anak orang terpandang yang sedang bersekolah di Jawa. Maka inilah pinta Zainab: "Jika mimpimu untuk ke tanah suci tercapai, aku titipkan doaku, agar aku menikah dengan orang yang aku cintai dan pria itu juga mencintaiku".

Sebuah tragedi muncul. Untuk menolong Zainab yang tenggelam di sungai, Hamid harus berbuat sesuatu yang dipandang tidak senonoh, dan akhirnya diusir dari kampung—hal ini tidak ada di novelnya.

Apa pernyataan HAMKA di novelnya? Pada Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern yang disusun Maman S. Mahayana dinyatakan bahwa Hamka mengkritik adat perkawinan, serta sikap para orangtua yang mengaku Islam tetapi sebenarnya tidak berjiwa Islam. Apakah hal itu tercermin di filmnya?  Next »

Halaman 12

(mmu/mmu)
Baca Juga
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


MustRead X