'When You Wish Upon A Sakura', FTV Jepang Kenangan Manis Chelsea Islan
When You Wish Upon A Sakura, FTV Jepang Kenangan Manis Chelsea Islan
Kamis 11 Ags 2016 | 11:07 WIB

'When You Wish Upon A Sakura', FTV Jepang Kenangan Manis Chelsea Islan

Foto: Asep Syaifullah
Membintangi sebuah drama film televisi (FTV) berjudul 'When You Wish Upon Sakura' bersama aktor Jepang, Shu Watanabe.
 

Ketertarikannya dalam dunia seni peran tidak berhenti di layar lebar saja untuk memerankan sebuah karakter dalam film bagi seorang Chelsea Elizabeth Islan. Membintangi sebuah drama film televisi (FTV) berjudul 'When You Wish Upon Sakura' bersama aktor Jepang, Shu Watanabe, ia memiliki pengalaman dan kenangan tersendiri.

Dalam FTV itu, Chelsea berperan sebagai Ellie seorang mahasiswi Indonesia yang jatuh cinta pada seorang jurnalis asal Jepang bernama Ryo yang di perankan oleh Shu Watanabe. Drama FTV ini merupakan besutan Fuji Television Network (Jepang) dan DNA Production (Indonesia) serta didukung oleh The Japan Foundation dan WAKUWAKU Japan.

Dalam waktu yang yang relatif pendek, syuting di Jogjakarta dan Jepang, bertemu dan beradu akting dengan aktor serta kru internasional merupakan pengalaman pertama baginya. "Buat 'When You Wish Upon a Sakura' ini aku bener-bener kayak latihan cuman semingu, persiapan syutingnya juga cuman seminggu juga, dan syutingnya cuman dua minggu, satu minggu di Jogja dan satu minggu di Jepang," ujar Chelsea dengan semangat.

"Nah itu juga pertama kalinya aku beradegan atau punya lawan main dari internasional yaitu Shu Watanabe, dia aktor dari Jepang. Dan itu pengalaman pertama aku syuting di luar negeri dengan kru luar negeri dan sutradara luar negeri dengan aktor luar negeri, jadi bener-bener serba luar negeri semua dan aku satu satunya yang bener-bener Indonesia di situ," tambahnya dengan tawa.

Tak hanya bangga menjadi salah satu aktris asal Indonesia yang dipercayai untuk memainkan sebuah FTV produksi Jepang. Disiplin waktu serta sistem bekerja yang begitu cepat namun sangat memikirkan estetika dalam pengambilan gambar serta cerita menjadi pengalaman yang tidak dapat dilupakan.

"Terus pengalamannya menarik karena mereka kerjanya cepat dan disiplin, terus aku jadi belajar apa ya coba di Indonesia sistem mereka itu ada di negara kita karena selain mereka kerjanya cepet tapi mereka juga konsisten jadi bukan cepet tapi kualitasnya dilupain," urainya serius.

"Mereka justru makin detail dan sangat menjaga kualitasnya. Terutama ini kan sebenarnya film televisi ya bukan film layar lebar. Kalau di Indonesia FTV biasa, kalau di mereka di standar mereka itu FTV seperti film jadi makanya pas aku nonton juga, oh iya loh mereka benar-benar bikin standarnya itu kayak film layar lebar gitu'," sambungnya dengan takjub.

* * *
Related Articles
Latest Articles