Berperan sebagai noni keturunan Belanda bernama Stella dalam film 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' menjadi pengalaman baru bagi Chelsea Islan dalam karier beraktingnya. Selain bermain dengan pemain film sekaliber Christine Hakim dan (almarhum) Alex Komang, ia juga harus beradaptasi dengan naskah garapan Garin Nugroho yang kerap berubah-ubah.
Chelsea pun bercerita tentang serunya terlibat dalam film tersebut yang prosesnya serba unik. Salah satunya soal pendalaman karakter. Pertama kali, Chelsea justru diperkenalkan dengan tokoh Annelies dari novel Pramudya Ananta Toer, yang merupakan rujukan bagi karakter Stella.
"Jadi awalnya gitu, pendalaman karakter untuk si Stella itu wah menarik banget. Aku reading cuma sekali sama acting coach aku Mas Aji Bong dan itu satu scene sama Tjokro itu banyak yah di film itu. Itu rasanya, aduh aku belum siap nih," kenangnya.
![]() |
"Udah gitu langsung beradegan dengan Mas Reza (Rahadian). Saat itu aku belum kenal ya, masih apa ya, aku melihatnya sebagai senior gitu dan aku mengidolakan dia jadi rasanya deg-degan juga ketika satu frame. Dengan Mas Reza untung semuanya lancar nggak salah-salah, nggak terbata-bata dan deg-degan sih, wah udah kayak mau live di panggung rasanya," tambahnya.
Karena "reading" hanya sekali, Chelsea pun ambil inisiatif sendiri memperdalam karakter yang dipereninya dengan membaca novel 'Bumi Manusia'. "Oh ya udah coba ah maininnya macem kayak Annelies gitu. Akhirnya Mas Garin bilang, ini bagus banget cara dibawainnya senatural mungkin," urainya kembali.
![]() |
Dalam film ini, Chelsea pun juga diuji kemapuannya dalam memainkan sebuah karakter yang mungkin tidak begitu mudah untuk dimainnkan. Belum lagi ditambah dengan sang sutradara Garin Nugroho yang kerap mengubah skrip.
"Di lokasi syuting pun berjuang karena Mas Garin suka ganti-ganti skrip. Jadi semua itu on the spot, jadi pendalaman karakternya sebenarnya tidak ada kalau bisa dibilang," kisahnya.
"Jadi aku baca langsung, aku obrolin, diskusi sebentar, langsung take, itu wow! Itu nggak ada proses sebenarnya untuk film Tjokroaminoto itu, bisa dibilang no proses, no reading, ya enggak ada sama sekali karena kadang skrip juga baru terima di hari itu," pungkasnya seru.