detikHot

Spotlight

Sardono W Kusumo Tampilkan Film Napak Tilas Raden Saleh di Dua Negara

Rabu, 10 Agu 2016 14:24 WIB Tia Agnes - detikHot
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pada Februari 1848, Raden Saleh tengah mengunjungi Paris setelah lawatannya ke Belanda dan Jerman. Di kota tersebut, dia belajar bersama pelukis Prancis kenamaan bernama Horace Vernet. Tak hanya belajar seni, di Paris Raden Saleh melihat dengan mata kepalanya sendiri revolusi yang dilakukan kaum proletar.

Dari situ, budayawan sekaligus koreografer ternama Tanah Air Sardono W Kusumo membuat film pendek yang terinspirasi dari sosok Raden Saleh. Pelukis yang dikenal sebagai pionir seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda) itu memang dikenal kesohorannya di berbagai negara di Eropa, dan karyanya sampai sekarang dikenal sebagai masterpiece langka.

Salah satu lukisan yang diciptakan Raden Saleh berjudul 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' yang kini menjadi koleksi Istana Kepresidenan RI. Sardono mengatakan sosok Raden Saleh sangat penting bagi dirinya.

"Selama 10 tahun belakangan saya bikin film tentang Raden Saleh, mengunjungi dua negara Paris dan Ceko bersama Faozan Rizal yang dikenal sebagai sutradara Habibie & Ainun. Khususnya di Paris, itu adalah kota yang sangat penting bagi Raden Saleh, karena di situ dia melihat revolusi Prancis," terang Sardono.

Simak: Usai Pabrik Gula Colomadu, Sardono W Kusumo Siap Pentas Retrospektif di Singapura



Jauh sebelum memulai penjelajahan dan syuting bersama dengan Faozan, Sardono pernah melakukan riset tentang Raden Saleh dan lukisan tentang Pangeran Diponegoro untuk karyanya 'Opera Diponegoro'. "Risetnya panjang dan peristiwa Paris membuat Raden Saleh memahami apa itu kolonialisme yang nantinya akan terlukis di lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Dan Raden Saleh menggambarkan tentara Belanda seperti wayang golek, kepala yang besar," tambahnya lagi.

Khusus untuk Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2016, Sardono menyiapkan film Raden Saleh berdurasi enam jam. Namun, ia belum mengetahui akan memutarnya berapa lama. "Tergantung kebutuhan di sana dan penyiapan perlengkapan projector," ujarnya.

Pertunjukan yang diberi nama 'Expanded Cinema' itu juga akan menampilkan film dokumentasi karya Sardono sejak 1970. Saat itu, dia masih berusia 25 tahun dan telah melakukan perjalanan ke pulau dan suku-suku pedalaman, seperti Nias, Papua, Kalimantan, dan sebagainya. Karya tersebut direkamnya dengan menggunakan film 8mm.

"Saat Ong Keng Sen (kurator SIFA) melihat-lihat karya film saya yang mangkrak, dia menawarkan untuk merestorasi, dan memperbaikinya. Nah, ini untuk pertama kalinya nanti akan diputarkan di SIFA," pungkas Sardono.

'Expanded Cinema' akan menjadi bagian dari pementasan retrospektif Sardono W Kusumo yang akan berlangsung pada 13-28 Agustus 2016 di Malay Heritage Centre, Singapura.


(tia/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com