DetikHot

premiere

'Stip & Pensil': Komedi Tanpa Akal, Lucu Gila-gilaan!

Kamis, 20 Apr 2017 18:12 WIB  ·   Shandy Gasella - detikHOT
Stip & Pensil: Komedi Tanpa Akal, Lucu Gila-gilaan! Foto: Dok. detikHOT
Jakarta -

Komedian tunggal, (kini) aktor, penulis naskah, sekaligus sutradara film Ernest Prakasa telah menuai reputasi yang baik di kancah perfilman Indonesia. Debut filmnya sebagai sutradara; 'Ngenest' (2015), disusul film berikutnya 'Cek Toko Sebelah' (2016) mengejutkan banyak pihak, sebab bagaimana tidak, berturut-turut film yang dibesut sekaligus dibintanginya tersebut mendapatkan apresiasi yang luar biasa, baik dari kritikus maupun dari khalayak penonton.

Setelah 'Cek Toko Sebelah' kita pun penasaran film apa yang bakal dia buat selanjutnya. Namun, sambil menunggu itu terjadi, kini hadir film 'Stip & Pensil'.

Film ini bukan karya terbarunya sebagai sutradara, namun selain menjadi bintang utama, ia juga ikutan menulis naskahnya – keroyokan bersama Joko Anwar ('Janji Joni', 'Kala') dan Beno Raja Gukguk ('Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1'). Lewat 'Ngenest' dan 'Cek Toko Sebelah' kita tahu bahwa Ernest ternyata tak hanya jago melawak, namun ia juga seorang penulis jempolan yang mampu menangkap fenomena sosial di sekelilingnya, lalu ia rangkum untuk kemudian direkonstruksi ke dalam cerita film, dan sejauh ini kedua film yang naskahnya ia tulis tersebut berhasil menangkap fenomena sosial kontemporer di perkotaan selevel dengan apa yang dicapai Asrul Sani pada zamannya.

Salah seorang sineas terbaik Indonesia, Joko Anwar, ikut terlibat menulis naskah 'Stip & Pensil' yang disutradarai oleh Ardy Octaviand ('3 Dara', 'Coklat Stroberi') ini, rasa-rasanya dengan sederet nama menjanjikan itu tak mungkin bila film ini bakal berakhir buruk bukan?

Syahdan, film dibuka lewat adegan pentas drama sekolah, tak diketahui pentas drama itu berkisah soal apa, tetapi cerita yang diangkat nampaknya membosankan; banyak penonton yang teler ketiduran. Lalu datanglah Toni (Ernest Prakasa) bersama teman segengnya, Aghi (debut Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira, 'Get M4rried', 'Negeri Van Oranje'), dan Saras (Indah Permatasari, 'Athirah', 'Pesantren Impian') yang kemudian membajak panggung, lantas membuat pentas sendiri dengan menyanyi dan menari.

Penonton pun bangun dari tidur, dan seolah dikomandoi seorang floor director acara TV, mereka sorak sorai dan ikutan bergojet. Ya, norak sekali! Dan menggelikan.

Toni, Aghi, Bubu, dan Saras dikisahkan sebagai anak-anak orang kaya yang paling songong di sekolahnya. Dan, tentu saja (harus) punya musuh, yakni Edwin (Rangga Azof) yang sebenarnya sama songongnya.

Sebentar, Ernest Prakasa sebagai anak SMA? Kecuali film ini mempunyai kru special effect yang dapat mengubah tampilan Ernest menjadi ABG belasan tahun, itu tak akan jadi soal. Tetapi, dalam film Ernest tampak begitu bulat, bukan gendut, tetapi bulat karena faktor umur ditambah kurang olahraga,

penampilannya sama sekali tidak meyakinkan sebagai anak SMA. Pun teman-temannya dan karakter musuh-musuhnya juga diperankan oleh aktor-aktor yang ketuaan untuk tampil sebagai ABG. 'Ada Cinta di SMA' karya Patrick Effendy semestinya menjadi rujukan dalam hal casting pemain.

'Stip & Pensil': Komedi Tanpa Akal, Lucu Gila-gilaan!Foto: Dok. detikHOT



Suatu hari mereka mendapatkan tugas menulis esei tentang masalah sosial dari guru baru mereka di sekolah (diperankan Pandji Pragiwaksono). Sedang pusing mencari ide, tak sengaja mereka bertemu dengan Ucok (Iqbal Sinchan), pengamen badung Ibukota.

Lantas lahirlah karya tulis mereka menyoal anak-anak jalanan yang perlu mendapatkan akses pendidikan. Tak berhenti di situ, pada akhirnya mereka tergerak untuk mendirikan sekolah darurat di kampung kumuh tempat tinggal Ucok, dan sekaligus menjadi guru bagi mereka. Dari sini film kemudian tampil menarik, penuh kejutan, dan bergelimangan humor.

Saya sebetulnya suka tak suka dengan film ini, tak suka karena seolah-olah pembuat film meremehkan nalar yang dimiliki penonton. Dan, terkesan bahwa pembuat film tak pernah mengenyam bangku SMA.

Sebab, bila pembuat film pernah mengalami menjadi murid SMA di wilayah mana pun di Indonesia, penggambaran anak-anak SMA, bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama lain di lingkungan sekolah tak akan tergambarkan sepalsu itu dalam film.

Tetapi, hal baiknya adalah, meskipun film ini dipenuhi kepalsuan (dalam hal plot dan casting), manakala film menghadirkan gelaran lawaknya, hasilnya sungguh sesuai ekspektasi; ngocol gila-gilaan, bahkan beberapa lelucon bisa membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Saya ingin film ini memiliki edisi khusus berdurasi 30 menit yang hanya berisikan adegan-adegan lucunya saja. Dan, oh, sempalan adegan drama antara si penjual mie ayam dan anaknya itu, sebaiknya dihilangkan saja.

Iqbal Sinchan sebagai Ucok, dan Gita Bhebhita sebagai Mamaknya tampil luar biasa mengocok perut kita tanpa ampun. Tatjana Saphira dan Indah Permatasari ada baiknya juga tampil di film ini, merekalah yang dapat melemaskan syaraf-syaraf tubuh kita manakala kita terlalu capek karena tertawa.

Pujian untuk siapa pun diantara Ernest Prakasa, Joko Anwar, dan Beno Raja Gukguk atas kreasi lawan-lawakan dalam film yang tensinya semakin naik saja dan terjaga seiring durasi film.

Untuk Anda yang bersedia inteligensianya sedikit saja terlecehkan, namun haus akan tontonan yang penuh lawakan, 'Stip & Pensil' adalah pilihan yang tepat. Syukur-syukur setelah menonton film ini, Anda pun bakal mendapatkan gagasan ihwal siapa calon Gubernur Jakarta yang semestinya Anda pilih pada Pilkada.

Serius, film ini ternyata memuat sedikit kampanye Pilkada, namun sayangnya, film ini telat rilis, Pilkada sudah keburu usai.

Shandy Gasella, pengamat film


(doc/doc)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed