detikHot

premiere

'Arrival': Pertanyaan Mendasar dalam Hidup

Senin, 09 Jan 2017 13:40 WIB Candra Aditya - detikHot
Foto: imdb
Jakarta - Film-film Denis Villeneuve selalu berpusat kepada sifat manusia yang paling mendasar. Bagaimana cara menghadapi iblis dalam diri kita sendiri adalah pertanyaan dalam 'Prisoners'. Bagaimana cara menghadapi sebuah sistem yang rusak adalah pertanyaan dalam 'Sicario'. Dalam 'Arrival', film terbarunya, pertanyaannya adalah bagaimana cara memahami satu sama lain.

'Arrival' menceritakan tentang ahli bahasa bernama Louise Banks (Amy Adams) yang tiba-tiba mendapat kunjungan dari kolonel militer ketika satu dari dua belas pesawat alien muncul secara tiba-tiba di Bumi. Louise Banks diminta untuk menerjemahkan suara yang berasal dari si alien. Dengan mantap Louise mengatakan bahwa alien dan manusia mempunyai cara yang berbeda untuk berkomunikasi. Untuk benar-benar bisa berkomunikasi dengan si alien, Louise harus bertemu dengan si alien. Kolonel Weber (Forest Whitaker) awalnya menolak permintaan itu.

Namun ternyata pemerintah lebih membutuhkan keahlian Louise dibandingkan siapapun. Tengah malam, Louise dijemput dan dibawa ke lokasi pesawat alien tersebut melayang. Bersama dengan fisikawan Ian Donnelly (Jeremy Renner), Louise masuk ke pesawat alien tersebut, dan mencoba untuk berkomunikasi.

Hasil yang diperoleh Louise amatlah lambat sementara pemerintah Amerika dan sejumlah negara lain sudah tidak sabar untuk mencari tahu apa maksud kedatangan alien di Bumi. Louise kemudian melakukan sebuah terobosan ketika si alien memberikan simbol yang dianggap sebagai huruf mereka. Louise dan Ian Donnelly semakin bersemangat untuk mempelajari si alien. Semuanya kemudian menjadi gempar ketika Louise akhirnya bertanya kepada si alien tentang maksud kedatangan mereka dan jawabannya adalah, "Tawarkan senjata".

Ditulis oleh Eric Heisserer dari adaptasi cerita pendek 'Story of Your Life' karya Ted Chiang, 'Arrival' adalah sebuah drama yang "berkedok" sci:fi. Premis filmnya memang mirip dengan 'Independence Day' karya Roland Emmerich, tapi persamaan keduanya berhenti pada soal pesawat alien datang ke Bumi. Selebihnya, dua film tersebut sangat berbeda.

Seperti halnya dengan film-film Denis Villeneuve yang lain, 'Arrival' membutuhkan konsentrasi yang maksimal untuk menontonnya. Perhatian Denis akan detail mengharuskan Anda untuk memperhatikan layar dengan perhatian lebih. Tempo film ini sangatlah perlahan. Hal itu dilakukan agar penonton benar-benar larut dalam dunia Louise Banks. Dan, begitu Anda sudah larut ke dalamnya, film ini akan menghentakkan Anda sampai ke bagian yang terdalam.

Kekuatan 'Arrival' tidak hanya berhenti kepada editing yang pada akhirnya akan membuat penonton semakin mendalami karakter utamanya, tapi juga kemantapan scoring, production designer dan sinematografi. Alien dan pesawat dalam film ini hanyalah "kamuflase"; inti utama 'Arrival' adalah cerita tentang seorang ibu dan anaknya. Dan, kamera Bradford Young menyampaikannya dengan kelembutan yang ekstra. Setiap frame terasa melankolis, bahkan ketika ada alien dalam adegan tersebut. Warna-warnanya begitu melembutkan hati, dan gerakannya yang perlahan akan mengingatkan Anda pada 'The Tree of Life' yang juga memiliki mood yang sama.

Sementara itu, scoring dari Jóhann Jóhannsson membingkai adegan dengan intensitas yang begitu dijaga. Nada-nada yang muncul tidaklah ambisius namun begitu efektif. Ketika Denis menginginkan Anda untuk berjaga-jaga, Jóhann memberikan musik yang gegap gempita. Namun ketika film ini berubah menjadi sebuah drama, musik akan menjadi alasan utama kenapa mata Anda berkaca-kaca.

Salah satu faktor keberhasilan 'Arrival' berada di tangan Amy Adams. Film ini bergantung pada bagaimana aktor utamanya. Dalam film ini, Adams tidak hanya membuat kita percaya bahwa dia adalah linguist yang andal namun juga semua kegalauan yang terjadi di dalam kepalanya. Ketika Loiuse menemukan sesuatu, penonton akan segera melihatnya di matanya. Amy Adams tidak hanya membawakan karakter Louise Banks dengan lapisan yang lengkap namun juga kewibawaan tingkat tinggi. Sesuatu yang sangat susah dilakukan karena banyak emosi yang harus disampaikan dengan dialog yang minimalis.

Kehadiran 'Arrival' di tengah-tengah kita saat ini adalah momen yang tepat. Di saat dunia sedang terasa kacau, suasana politik yang memanas, semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, film ini mengajak penonton untuk memikirkan hal yang paling mendasar. Yakni, tentang cinta, tentang memori, tentang waktu. Hal-hal yang kedengarannya sangat filosofis namun ternyata, jika dibandingkan dengan hal-hal lain, menjadi hal yang sangat krusial.

'Arrival' bukan hanya menjadi salah satu film terbaik yang ada di bioskop hari-hari ini, namun juga menjadi film yang penting bagi kita semua. Tontonlah, dan bersiaplah tenggelam dalam pertanyaan yang diajukan oleh film ini. 'Arrival' bukan sekedar sebuah hasil karya seni yang baik namun juga sebuah kegalauan yang perlu dirayakan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/wes)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com