DetikHot

premiere

'Surat dari Praha': Cinta Mati Seorang Pelarian Politik

Senin, 01 Feb 2016 11:20 WIB  ·   Shandy Gasella - detikHOT
Surat dari Praha: Cinta Mati Seorang Pelarian Politik
Jakarta - Di sebuah kamar rumah sakit, Sulastri (Widyawati, 'Love', 'Romi dan Juli') terbaring tak berdaya. Laras (Julie Estelle, 'The Raid 2 Berandal', 'Filosofi Kopi'), putrinya, datang menjenguk --bukan untuk memberi penghiburan atau mengirim doa kesembuhan, melainkan demi memohon sang ibu agar meminjamkan sertifikat rumah untuk keperluan pribadinya. Hubungan mereka tak terlihat baik; ada sekat pembatas yang membuat keduanya berjarak satu sama lain.

Selepas pertemuan singkat di kamar rumah sakit itu, Sulastri kemudian meninggal dunia. Ia meninggalkan wasiat untuk puteri semata wayangnya itu. Jika Laras ingin mendapatkan harta warisan darinya, maka terlebih dahulu ia harus memenuhi persyaratan. Yakni, mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat kepada seorang lelaki bernama Jaya (Tio Pakusadewo, 'Lagu untuk Seruni', 'Bulan di Atas Kuburan') yang tinggal seorang diri di kota Praha, Republik Ceko.

Saya suka bagaimana film yang naskahnya ditulis oleh M. Irfan Ramli ('Cahaya dari Timur: Beta Maluku') ini dibuka. Dalam 10 menit awal, film ini berhasil memperlihatkan segala potensinya; pengarahan film, penulisan naskah, akting, sinematografi, musik, hingga production value-nya yang ciamik. Saya suka bagaimana sinematografer Ivan Anwal Pane (operator kamera untuk 'Alexandria') membingkai adegan Laras dan Sulastri ketika berdialog di kamar rumah sakit. Laras berdiri di muka jendela, kamera menatapnya diam seraya Laras mengantarkan baris-baris dialog kepada ibunya yang terbaring di atas ranjang. Sejurus kemudian, selepas baris terakhir dialog itu terucap, kamera bergerak secara perlahan meninggalkan Laras, beralih ke Sulastri, dan gerakan terhenti tepat ketika perempuan tua itu masuk bingkai, dan ia mulai mengucapkan baris pertama dialognya….

Adegan tersebut tertata dengan penuh perhitungan, sekaligus berhasil memberi konteks simbolis secara bahasa gambar tentang hubungan Sulastri-Laras yang berjarak tadi. Satu contoh ini saja mestinya sudah cukup meyakinkan Anda bahwa film ini dibuat dengan penuh kesungguhan.

Laras berhasil menemui Pak Jaya, lelaki seumuran ibunya itu, di apartemen sederhananya di Praha, dan lantas menyodorinya kotak dan sepucuk surat titipan dari Jakarta. Namun, Pak Jaya menolaknya mentah-mentah, dan dengan tegas meminta Laras untuk menjauhi dirinya. Rupanya Pak Jaya memendam rahasia yang telah begitu lama ia tutup rapat. Seiring film bergulir kehadiran Laras lambat laun akhirnya mampu membuka kembali hati Pak Jaya, dan memberinya kesempatan untuk menunjukkan siapa jati dirinya yang sesungguhnya; lelaki yang mencintai Sulastri sepanjang hidupnya, sekaligus seorang eksil korban pergolakan politik Indonesia pada 1966.

Hubungan Pak Jaya dan Laras sepintas tergambarkan layaknya dalam film-film bergenre romantis pada umumnya. Dua karakter yang pada mulanya saling menghindari, namun pada akhirnya satu sama lain membuka diri. Hanya saja, dalam film ini hubungan dan "penyatuan" itu dibawa ke arah yang lain. Semakin sering bertemu dengan Laras, Pak Jaya semakin teringat dan semakin ‘dekat’ dengan Sulastri, satu-satunya perempuan di dunia ini yang ia cintai namun tak kuasa ia miliki. Sedangkan bagi Laras, pertemuannya dengan Pak Jaya justru membuat dirinya semakin mengenal sosok mendiang ibunya yang selama ini tak pernah ia pahami betul.

Pak Jaya dan Laras saling menemukan (kembali) cinta masing-masing, dan dengan cara yang tak lazim, pembuat film ini sengaja memperlihatkan kepada kita bahwa Pak Jaya dan Laras seolah-olah tengah menjalin kasih, Untaian dialog antara mereka sering terdengar manis. Pengadeganan yang menyiratkan keintiman; shot-shot padat, medium close up hingga close up kerap jadi bingkai kala keduanya berbagi layar. Ditambah iringan lagu-lagu cinta yang menggetarkan, semua itu seolah-olah dilakukan pembuat film untuk menggiring persepsi penonton, ataukah sengaja ingin menyampaikan cerita yang ambigu?

Tio Pakusadewo memberikan kemampuan akting terbaiknya dalam film ini. Sutradara Angga Dwimas Sasongko ('Cahaya dari Timur: Beta Maluku', 'Filosofi Kopi') mendaulatnya memerankan karakter utama di saat sutradara-sutradara lain acapkali memberikan peran-peran pendukung dengan porsi kecil kepada aktor kawakan tersebut. Penonton film Indonesia memang butuh lebih banyak film dewasa dengan karakter-karakter utama yang diperankan oleh aktor-aktor gaek seperti Tio Pakusadewo. Julie Estelle tampil sama gemilangnya. Jangan lupakan penampilan singkat namun hebat dari aktris legendaris Widyawati sebagai Sulastri. Bagaimana cara Widyawati membawakan perannya di film ini membuat segala alasan yang dimiliki Pak Jaya untuk jatuh hati kepadanya tampak sangat masuk akal. Setelah 'Cahaya dari Timur: Beta Maluku', 'Surat dari Praha' adalah film karya Angga yang paling mature, dan merupakan film terbaiknya sejauh ini.

Di luar bagaimana Angga menggarap film ini dengan begitu luar biasa berhasil menyatukan unsur drama, romansa, musikal, bahkan kritik sosial dalam takaran yang pas serta menyatu dengan begitu organik, ada dua hal yang menjadi catatan saya. Pertama, Pak Jaya yang selibat (tidak menikah) ditampilkan kurang jujur dengan absennya adegan seks dirinya dengan wanita Ceko, misalnya. Atau, ya, adegan yang ‘sekedar’ menggambarkan bahwa sebagai lelaki dewasa, dengan segala cintanya yang dipendam terhadap seorang perempuan nun jauh di negeri lain, ia tak lantas kehilangan kebutuhan biologisnya. Sekali lagi, kita bicara tentang film drama “dewasa”, dan konteks-konteks seperti itu penting.

Kedua, catatan saya tertuju pada bagaimana film ini kurang berani berbicara lebih jauh soal pilihan dan sikap politik Pak Jaya (dan teman-temannya). Pak Jaya selalu menepis label komunis yang dituduhkan kepadanya. Memangnya kenapa bila ia komunis? Tentu saja, memang tidak harus menjadi komunis untuk menolak pemerintahan Orde Baru kala itu. Tapi, dengan logika yang sama, bukankah tak perlu pula film ini mengesankan sebuah sikap “fobia” terhadap komunis? Sambil mempertanyakan dua hal itu, bila boleh saya jawab sendiri, rasa-rasanya saya paham betul bahwa pembuat film masih agak berkompromi dengan pasar, bahwa ada "nilai-nilai moral dan kearifan bangsa" yang hingga kini masih wajib untuk dijunjung tinggi. Bila tidak, kita pun tahu akibatnya.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia




(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed