DetikHot

premiere

'Haji Backpacker': Mencari Tuhan Tanpa Teriakan

Jumat, 03 Okt 2014 14:50 WIB  ·   - detikHOT
Haji Backpacker: Mencari Tuhan Tanpa Teriakan
Jakarta - Dengan judul yang catchy dan menjual, film 'Haji Backpacker' berhasil mengundang massa di hari pertama pemutarannya di bioskop, Kamis (2/10/2014). Tersirat dari judulnya, film ini memadukan dua tren besar yang tengah bergulir di masyarakat, yakni traveling dan drama religi. Namun jangan keburu mengira bahwa ini film yang memberi petunjuk bagaimana naik haji ke Mekkah dengan cara "ngebolang".

'Haji Backpacker' adalah sebuah drama yang tentang cinta yang gagal, dan kekecewaan lain yang mewarnai hubungan anak dan ayah. Dikemas dalam road movie yang dinamis, film ini mengikuti perjalanan sang tokoh utama Mada (Abimana Aryasatya) yang ajaib. Film dimulai dari tengah, dibuka di sebuah gubuk di tengah gurun kering di Iran. Dikira mata-mata Israel, Mada dihajar dan ditodong senjata, dipaksa mengaku.

Tapi, tunggu dulu. Jangan terlalu serius. Ini bukan thriller spionase ala James Bond atau pun Jason Bourne. Ada kalanya memang, Mada tak tahu mengapa ia bisa terdampar sampai ke Lijiang, China. Tapi, ia sama sekali bukan mata-mata yang telah dihilangkan identitasnya. Dengan alur yang bergerak maju-mundur, keluar masuk antara masa kini dengan masa lalu, film ini menyingkap selapis demi selapis siapa Mada, dan mengapa ia ada di tempat-tempat itu: Thailand, Vietnam, India, Tibet hingga berakhir di Saudi Arabia.

Apakah ia semacam Walter Mitty? Tidak juga. Mada hanya ingin pergi jauh-jauh dari ayahnya, yang telah membuatnya kecewa pada kehidupan. Sang ayah yang mengajarinya berdoa dan beribadah, dan meyakinkannya bahwa hidupnya akan baik selama mengikuti aturan-Nya, ternyata tak terbukti bagi Mada. Maka, tak hanya marah pada sang ayah, ia sekaligus juga marah pada Tuhan. Sampai di sini mungkin jadi terdengar seperti sebuah klise yang sok romantis. Marah pada Tuhan? Film religi dengan premis seperti ini akan mudah tergelincir ke dalam teriakan-teriakan yang herois ala sinetron hidayah tentang orang yang bertobat.

Untungnya, Jujur Prananto sebagai penulis skrip bisa menahan diri untuk tidak terlalu mengikuti selera umum pada formula yang disebut sebagai "film religi". Memang, tak bisa dipungkiri, simbol-simbol Islam bertebaran dan bahkan menjadi napas film ini. Dan, bohong kalau sebagai film religi, film ini dibilang tidak berkotbah. Tapi, apapun yang dibayangkan orang tentang "film religi", 'Haji Backpacker' menampilkan dan menggemasnya dengan halus dan dalam takaran yang serba pas. Dialog yang biasanya menjadi beban yang menyiksa dalam film-film jenis ini, di film ini terasa wajar dan mengalir tenang.

Melengkapi semua itu, Abimana membawakan karakter yang diperankannya dengan kepiawaian seorang aktor yang sudah berpengalaman. Tanpa aksi yang menggebu-nggebu, ia begitu meyakinkan dalam menghidupkan sosok seorang pria yang gelisah dan tengah mencari keseimbangan dalam hidupnya. Tiga aktris yang menjadi lawan mainnya, masing-masing Laudya Chintya Bella, Dewi Sandra dan Laura Basuki mengimbanginya dengan bagus. Sutradara Danial Rifky ('La Tahzan', dari rumah produksi yang sama Falcon Picture) berhasil menciptakan interaksi-interaksi yang penuh chemistry di antara mereka.

Lihat bagaimana ekspresi Laudya sebagai Marbel, TKI di Thailand yang kerap menjadi tempat kembali bagi Mada, ketika ditinggalkan begitu saja oleh pria yang dicintainya itu, dan hanya bisa memanggil-manggil dan berusaha mengejar bus yang melaju. Juga, simak reaksi Dewi Sandra sebagai Sofia ketika Mada datang membawakan bunga. Dan, juaranya adalah Laura Basuki sebagai gadis di desa pedalaman China yang hidup di antara sungai dan gunung-gunung, dan pada suatu hari tiba-tiba kedatangan pria ganteng dari antah berantah. Dialog-dialog antara sang gadis dengan Mada begitu menyenangkan.

Bila ada kekurangan pada film ini, maka itu terletak pada repetisi penampilan panorama kota dan alam untuk menandai pergantian adegan. Tentu saja, maksudnya untuk memberikan efek perjalanan waktu, namun karena dilakukan terus-menerus sehingga terasa kehilangan makna --untuk tak menyebut sebagai kegenitan sang sutradara yang lama-lama membosankan. Untungnya, pada separo akhir film, simbolisasi berupa gumpalan langit dan kerlap-kerlip kemilau lampu-lampu kota yang berpendaran itu sudah tak ada lagi.

Dengan gambar-gambar ala Instragram yang memanjakan mata, dibingkai ilustrasi musik dan lagu-lagu soundtrack yang membuai, secara keseluruhan 'Haji Backpacker' enak diikuti, menghibur dan menyajikan mood yang menggembirakan. Cerita dan konflik yang tipis disiasati dengan permainan plot yang tangkas dan efektif. Risikonya tentu ada. Bagi kalangan penonton yang telah terbiasa dengan sinetron atau FTV yang hingar-bingar dengan tokoh-tokoh mertua dan menantu jahat, film ini barangkali akan terasa "kurang drama" atau "minim konflik".

Tapi, sebagai penulis skrip yang sudah veteran, Jujur Prananto sepertinya memang sengaja mendekati tema berat kekecewaan manusia pada kehidupan dan Tuhan lewat momen-momen kecil, penuh ketenangan, yang kadang simbolis, namun justru jauh lebih berhasil untuk menyentuh perasaan. Lihat bagaimana pada akhirnya Mada bicara kepada Tuhan; ia tidak teriak-teriak menantang, melainkan nyaris berbisik, dengan ungkapan-ungkapan ala puisi Taufiq Ismail yang lembut.


(mmu/mmu)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed