DetikHot

premiere

\'Cahaya Kecil\': Cinta dan Benci dalam Keluarga Musisi

Jumat, 27 Sep 2013 16:07 WIB  ·   - detikHOT
\Cahaya Kecil\: Cinta dan Benci dalam Keluarga Musisi
Jakarta - \\\'Cahaya Kecil\\\' dibuka lewat curhatan Gilang (Petra Sihombing, \\\'Hasduk Berpola\\\'). Ia bernarasi kepada penonton soal getirnya hidup yang ia jalani sedari kecil. Ayahnya, Arya Krisna (Andy \/rif, \\\'Seleb Kota Jogja\\\'), seorang musisi terkenal, memisahkannya dengan sang ibu (diperankan oleh Happy Salma) dan memaksanya untuk tinggal berdua saja dengan dirinya. Waktu pun bergulir. Gilang yang kini dewasa pergi kuliah ke luar negeri meninggalkan ayah yang sangat ia benci. Namun tak lama kemudian ia harus kembali pulang karena sang ayah masuk penjara.

Di lain pihak ada Abraham (Verdi Solaiman, \\\'Hari Ini Pasti Menang\\\'), mantan manajer Arya yang antusias sekali mengajak Gilang rekaman. Ia berusaha membuat Gilang mengikuti jejak ayahnya jadi seorang penyanyi. Dan, ternyata sukses. Lagu pertama yang dinyanyikan Gilang, tanpa sepengetahuannya, adalah ciptaan ayahnya sendiri yang dikarang di dalam penjara. Abraham yang mengaturnya. Tapi, ternyata oh ternyata, di balik topeng manisnya, sebagai seorang paman sekaligus manajer, Abraham berniat busuk memanfaatkan Gilang dan ayahnya demi memperkaya dirinya sendiri.

Arya lalu bebas dari penjara. Gilang makin terkenal dan kisah hidupnya selalu diburu para wartawan gosip. Tapi ia masih saja seperti Gilang yang dulu, masih sangat membenci ayahnya.

Film yang bakalan pas bila diberi tajuk \\\'Aku Benci Ayah\\\' ini dibesut Benni Setiawan yang sebelumnya sukses merusak mitologi Lupus lewat \\\'Bangun Lagi Dong Lupus\\\' yang sempat edar awal tahun ini. Kini, bermodalkan naskah cerita karangan Titien Wattimena (\\\'Hello Goodbye\\\'), ia mencoba kembali menyuguhkan kisah pelik hubungan ayah-anak, sesuatu yang pernah ia hadirkan lewat \\\'Bukan Cinta Biasa\\\' yang lebih kurang memiliki tema serupa. Sayang, arahannya yang cukup baik saat menggarap \\\'Bukan Cinta Biasa\\\' tak terulang untuk film ini.

Benni tampak kewalahan mengeksekusi naskah tulisan Titien. Alih-alih memberi tafsir visual terbaik lewat arahannya yang bisa membuat film ini jadi tontonan yang mengasyikan, Benni tampak lempeng-lempeng saja menerjemahkan plek naskah film ini yang memang dengan sangat payah ditulis oleh Titien.

Titien mengarang untaian peristiwa yang terjadi pada tokoh utamanya bak hasil rangkuman setiap bab novel chicklit yang tipis-tipis itu. Tak ada detail, tak ada kedalaman dimensi dari setiap tokoh yang ia ciptakan. Dan, jangan lupakan usaha Titien untuk memberi kesan bahwa Gilang sangat membenci ayahnya lewat serentetan kejadian yang berulang-ulang ia hadirkan. Lihat misalnya adegan perkenalan Gilang dengan Saskia (Taskya Namya, \\\'Langit ke-7\\\'). \\\"Elo anaknya Arya Krisna kan?\\\" tanya Saksia, dan Gilang pun langsung pundung pergi menjauh.

Pada adegan lain Gilang masih saja mendapat pertanyaan serupa dari tokoh lain yang selalu dijawabnya dengan, \\\"Jangan sebut nama dia di depan aku!\\\" Yang paling mengherankan, pada adegan berikutnya Saskia mengulang hal serupa dengan menyebut-nyebut nama Arya di depan Gilang. Entah apa tujuan Titien, sengajakah membuat Saskia agar terlihat bodoh, atau memang itu bagian dari usahanya tadi, menancapkan kesan ke benak penonton tentang sebegitu besarnya rasa benci Gilang terhadap ayahnya. Bila memang (karena) itu, sedari awal penonton sudah tahu, karena Gilang sudah curhat di awal film.

Andy \/rif secara mengejutkan mampu tampil prima memerankan sosok ayah yang dilanda rasa penyesalan. Pun begitu dengan Verdi Solaiman yang berperan antagonis, mampu memberi gestur, sorot mata dan pembawaan yang mengundang decak kagum. Verdi Solaiman rasanya sudah seperti Lukman Sardi saja, tinggal menunggu waktu ia mendapatkan peran besar utamanya sendiri. Andy \/rif dan Verdi Solaiman sejatinya adalah \\\"cahaya kecil\\\" itu, sebab mereka berdua yang mampu bersinar di film ini di antara pemain lain yang tampil redup.

Dan, bicara soal redup, Petra Sihombing sebagai Gilang sang tokoh utama adalah pemain yang paling konsisten menjaga redupnya. Ia tak mampu berlaku wajar dan lepas. Sepanjang film kita hanya menyaksikan wajah datarnya yang tanpa emosi, dibarengi urat-urat tegang yang juga nampak di mukanya. Padahal ini bukan pengalaman pertamanya bermain peran. Petra jelas harus lebih serius menanggapi isu ini bila masih ingin bermain peran. Kalau tidak, ya cukup menyanyi saja.

@shandygasella <\/strong>pengamat perfilman Indonesia<\/em>




(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed