Pentas 'Matah Ati' di Mangkunegaran Solo

Pertunjukan 'Matah Ati' melibatkan sejumlah penari senior dari Solo dan Jakarta. Jay Subyakto, selaku penata artistik, memberikan alternatif garapan yang cukup menarik berupa panggung miring yang tetap nyaman ditonton.
Rubiyah, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Matah Ati, adalah salah satu pemimpin pasukan perempuan dalam pemberontakan RM Said yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyowo melawan Belanda. Matah Ati di kemudian hari diperistri oleh Pangeran Sambernyowo.
Pemberontakan Pangeran Sambernyowo disebut-sebut sebagai cikal-bakal perang gerilya di Jawa, dengan mengambil lokasi perjuangan di Wonogiri, Karanganyar, dam sebagian Jawa Timur.
Pemberontakan Pangeran Samberyowo ini berakhir pada tahun 1757 dengan konsesi pemberian gelar dan kedudukan kepada Sambernyawa sebagai pangeran mardika (pangeran otonom) dengan gelar KGPAA Mangkunegoro I dan berkuasa di Istana Mangkunegaran.
Pertunjukan di Lapangan Pamedan mengambil latar belakang gedung kantor Kavaleri - Artileri Mangkunegaran yang dibangun 1874. Pada jamannya pasukan kavaleri dan pasukan artileri Mangkunegaran merupakan pasukan tangguh dan terlatih.
Pertunjukan Matah Ati melibatkan sejumlah penari senior dari Solo dan Jakarta. Jay Subyakto, selaku penata artistik, memberikan alternatif garapan yang cukup menarik berupa panggung miring yang tetap nyaman ditonton.
Rubiyah, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Matah Ati, adalah salah satu pemimpin pasukan perempuan dalam pemberontakan RM Said yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyowo melawan Belanda. Matah Ati di kemudian hari diperistri oleh Pangeran Sambernyowo.
Pemberontakan Pangeran Sambernyowo disebut-sebut sebagai cikal-bakal perang gerilya di Jawa, dengan mengambil lokasi perjuangan di Wonogiri, Karanganyar, dam sebagian Jawa Timur.
Pemberontakan Pangeran Samberyowo ini berakhir pada tahun 1757 dengan konsesi pemberian gelar dan kedudukan kepada Sambernyawa sebagai pangeran mardika (pangeran otonom) dengan gelar KGPAA Mangkunegoro I dan berkuasa di Istana Mangkunegaran.
Pertunjukan di Lapangan Pamedan mengambil latar belakang gedung kantor Kavaleri - Artileri Mangkunegaran yang dibangun 1874. Pada jamannya pasukan kavaleri dan pasukan artileri Mangkunegaran merupakan pasukan tangguh dan terlatih.