Spotlight

Teknik Konvensional di Balik Film 'Call Me by Your Name'

Devy Octafiani - detikHot  ·   Kamis, 08 Feb 2018 12:33 WIB
Foto: (imdb) Foto: (imdb)
Jakarta - Teknologi di dunia perfilman memberi banyak kesempurnaan gambar yang disuguhkan di atas layar. Didukung efek yang mumpuni, bukan hal yang asing bila di satu waktu kita bisa menyaksikan kera menjadi bintang utama di sebuah film.

Namun canggihnya teknologi hingga penggunaan banyak kamera untuk mengambil gambar tak menjadi andalan bagi drama 'Call Me by Your Name'. Tampaknya hal itu yang membuat Oscar tertarik dan menilai drama Luca Guadagnino ini memiliki keunikan dari sisi pengambilan gambar.

Melakukan syuting di Cremona, Italia, Luca Guadagnino bekerja sama dengan Sayombhu Mukdeeprom, sinematografer pemenang Palm D'Or dari Cannes Festival.

Teknik Konvensional di Balik Film 'Call Me by Your Name'Foto: (imdb)



Sejak awal dirinya dilibatkan dalam proyek film ini, Mukdeeprom sepakat untuk hanya menggunakan satu kamera sepanjang produksi.

Tentu bukan hal yang mudah bagi proses pengambilan gambarnya.

"Aku melakukan banyak observasi. Aku banyak berjalan-jalan untuk mendapatkan aura yang tepat. Bagiku itu semua menjadi data," ujar sinematografer asal Thailand tersebut.

"Aku bukan orang yang mencari tone seperti apa yang tepat untuk gambar sebuah film. Bila latar ceritanya tahun 1980-an lantas harus begini atau begitu, alam tak banyak berubah dalam rentang 40 atau 50 tahun. Bangunanlah yang berubah. Aku meyakini momen, itu saja," tuturnya lagi.

Teknik Konvensional di Balik Film 'Call Me by Your Name'Foto: (imdb)



Dari tiap potongan gambar yang direkam, sang sinematografer mencoba memposisikan dirinya sebagai Elio, karakter utama yang diperankan oleh Timothee Chalamet.

"Aku mencoba berpikir, bila aku adalah Elio, bagaimana aku melihat alam, juga tempat-tempat yang aku datangi. Kuncinya ada di observasi, itu penting," ujar Mukdeeprom.

'Call Me by Your Name' menghasilkan drama sepanjang 120 menit. Membawa kisah tentang emosi yang dialami remaja bernama Elio.

Ia mengalami pergolakan diri dan usaha menemukan jati diri ketika bertemu dengan seorang pria dewasa berpikiran bebas dan terbuka yang diperankan Armie Hammer.

Peran itu yang membawa Timothee Chalamet masuk dalam jajaran aktor terbaik tahun ini. (doc/tia)

Back to Top