Taman Bendera Pusaka di Kebayoran Baru berubah jadi ruang konser terbuka bertajuk Lenggok Jakarta oleh Jakarta Philharmonic Orchestra. Digelar Sabtu (20/6/2026) malam, ribuan warga duduk santai sambil menikmati musik-musik karya Ismail Marzuki, Antonio Vivaldi, sampai medley lagu Betawi.
Suasana itu jadi penampilan perdana formasi Ensemble Jakarta Philharmonic Orchestra sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-499 DKI Jakarta. Di tengah pertunjukan, salah satu pendiri mereka, Neneng Rahardja, menjelaskan sejarah panjang orkestra yang usianya lebih tua dari Indonesia.
"Orkestra ini bermula sejak awal abad ke-20, ketika masih bernama Batavian Staff Orchestra pada masa kolonial Belanda," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah Indonesia merdeka, namanya berganti menjadi Radio Philharmonic Orchestra, lalu Orkes Radio Jakarta, hingga akhirnya melebur jadi Orkes Simfoni Jakarta, dan di tahun 1999 berubah lagi Jakarta Philharmonic Orchestra," tambahnya disambut tepuk tangan penonton.
Menurut Neneng, perubahan nama menjadi yang sekarang bukan sekadar pergantian identitas semata.
"Philharmonic itu berarti lebih luas genre yang kita mainkan musik-musiknya dan inklusif. Artinya sendiri adalah kita hidup dari pencintanya," tuturnya.
Neneng mengatakan konser yang berkolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta itu menjadi bagian perjalanan orkestranya sebagai wajah budaya Ibu Kota.
"Perayaan 499 HUT Jakarta menjadi bagian dari perjalanan Jakarta Philharmonic sebagai bagian dari branding kota global Jakarta. Malam ini, kami menampilkan karya-karya Ismail Marzuki, Ibu Soed, Harry Sabar dan karya klasik dari Antonio Vivaldi," katanya.
Di sisi lain, pihak Pemprov DKI Jakarta pun menyoroti pemilihan Taman Bendera Pusaka sebagai latar pelaksanaan Lenggok Jakarta.
"Ruang Terbuka dan interaksi dalam berbagai kegiatan warga adalah satu dari target pembangunan kita dalam memposisikan diri sebagai Jakarta kota Global. Jadi kombinasi pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan dan juga peningkatan kualitas hidup warga kota menjadi 2 pilar utama" ujar Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary.










































