detikHot

movie

Mbah Ponco Nenek 95 Tahun Bisa Akting di Film 'Ziarah' Meski Buta Huruf

Senin, 08 Mei 2017 10:40 WIB Usman Hadi - detikHot
Foto: Mbah Ponco di film Ziarah (Usman Hadi/detikcom) Foto: Mbah Ponco di film 'Ziarah' (Usman Hadi/detikcom)
Yogyakarta - Pemeran film 'Ziarah' itu bernama Ponco Sutiyem akrab disapa Mbah Ponco. Mbah Ponco masuk dalam nominasi ajang festival film ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017.

Saat ditemui di suatu sore, awan di Dusun Batusari, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul tampak hitam pekat, pertanda hujan mau turun. Tapi kondisi itu tak menyurutkan Ponco Sutiyem (95), pemeran utama film 'Ziarah', membersihkan halaman rumahnya.

Tangan Mbah Ponco tampak cekatan, sigap mencabuti rerumputan di depan rumahnya. Baru setelah dihampiri wartawan detik.com, tangannya mulai berhenti menyiangi rumput. Lalu dia mempersilakan duduk di teras rumahnya. "Iya, saya yang main film (Ziarah)," ujar Mbah Ponco pakai logat bahasa Jawa halus, Minggu (7/5/2017).

Mbah Ponco Nenek 95 Tahun Bisa Akting di Film 'Ziarah' Meski Buta HurufFoto: Mbah Ponco di film 'Ziarah' (Usman Hadi/detikcom)



Rumah Mbah Ponco sendiri sederhana, layaknya rumah-rumah warga Gunungkidul pada umumnya, berbentuk limasan bertembok cat orange. Setelahnya perempuan berkulit keriput ini bercerita, jika sudah banyak zaman dia lewati. "Saya menikah umur 16 tahun, pas zaman (kolonial) Jepang," paparnya.

Adalah Mbah Payo (102), suami Mbah Ponco. Berbeda dengan Mbah Ponco yang ingatan dan pendengarannya masih normal, Mbah Payo sudah pikun tergerus usia. "Orang sini (masa Kolonial Belanda) tidak ada yang sekolah. Kalau bukan anak orang kaya tidak bisa sekolah," sebutnya.

Baca juga: Nenek 95 Tahun Pemeran 'Ziarah' Masuk Nominasi Ajang AIFFA 2017

Menurut perempuan paruh baya ini, hanya kalangan priyai atau anak orang kaya yang bisa menimba ilmu di sekolahan zaman Belanda. Sementara tempat sekolah berada di Ngawen dan Semin Gunungkidul. Karena diskriminasi inilah, yang menyebabkan dia tak bisa baca tulis.

"Orangtua saya keras, kalau ada tontonan seperti ketoprak, wayang, saya tidak boleh lihat. Tapi kalau urusan (ngaji) ke masjid wajib, kalau saya tidak ke masjid dioyak-oyak orangtua," lugasnya. Sebab itu Mbah Ponco kecil hanya mengenyam pendidikan agama, tanpa bisa baca tulis latin.

Tapi keterbatasannya ini bukan berarti menyebabkan dia tak bisa memainkan peran, berakting dalam film. Meski mengakui tak memiliki keahlian berakting, tapi dia sesumbar sanggup memainkan peran dengan apik, asalkan terlebih dulu diajari. "Yang penting diajari (berakting) ya bisa," lugasnya.

Kini Mbah Ponco dikaruniai 7 anak, 27 cucu 40 buyut, dan 4 canggah (anak cucu). Salah satu cucunya yang tinggal di Dukuh Pagerjurang, Desa Kampung, bernama Risiyanto, yang menyarankan ke BW Purba Negara, agar Mbah Ponco diajak bermain film 'Ziarah'. "Anak saya 7, yakni Sagiyem, Hariyanto, Wasiyem, Sukamto, Sukamti, Suyani, Maryanto," ungkapnya.

Seingat Mbah Ponco, dalam memerankan Mbah Sri dalam film 'Ziarah', hanya menggambarkan masa awal kemerdekaan. Karena Mbah Ponco tidak hanya mengalami masa penjajahan, tapi juga saksi awal masa kemerdekaan. Sehingga dia mengaku tak kesulitan memerankan peran dalam film 'Ziarah'. "Seperti dongeng," urainya.

Seingat Mbah Ponco, film 'Ziarah' menceritakan Mbah Sri (Ponco Sutiyem) bersama cucu laki-lakinya, tengah mencari Prawiro Sahid, suami Mbah Sri. Prawiro sendiri sebelumnya pamit ke Mbah Sri terjun perang pas Agresi Militer Belanda kedua, dan meninggal di medan perang.

Setelahnya Mbah Sri mencari makam suaminya sampai pelosok-pelosok DIY dan Klaten, Jawa Tengah. Tujuan Mbah Sri, agar kelak dia bisa dimakamkan di sebelah makam suaminya. "Makamnya didatangi di Ngawen 1 tempat, Gunung Wijil 3 tempat, Bayat 1 tempat, Klaten 1 tempat," paparnya.

Cara Mbah Sri mencari makam Prawiro memakai sejumlah cara, seperti pakai cara mistik menggunakan keris, untuk menunjukkan arah ke mana dia harus berjalan. Selain itu, Mbah Sri juga menanyai para veteran satu zaman, di mana tempat Prawiro dimakamkan. "Seingat saya waktu syutingnya 12 hari," urainya.

Setiap kali mencari makam Prawiro, Mbah Sri selalu membawa bunga. Bunga itu bakal ditaburkan jika makam suaminya ketemu, tapi jika belum ditemukan bunga itu dia bawa pulang. "Akhirnya ketemu di Klaten," ulasnya. "Ada seseorang yang saya tanyai 'Apa ini keris pak Prawiro? dia jawab iya'," kenang Mbah Ponco.

Caption: Mbah Ponco saat menyiangi rumput di halaman rumahnya, Minggu (7/5/2017).


(bgs/doc)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed