DetikHot

movie

Black Book, Film Nostalgia Masa Kejayaan Hip-Hop Lokal

Sabtu, 12 Okt 2013 16:03 WIB  ·   - detikHOT
Black Book, Film Nostalgia Masa Kejayaan Hip-Hop Lokal
Jakarta - Era 1990-an, Indonesia tak hanya jadi konsumen musik hip-hop luar negeri. Banyak musisi dalam negeri yang cukup berkembang dan punya pasar sendiri. Maka bagi mereka yang sempat melewati era itu kompilasi album hiphop bertajuk \\\'Pesta Rap\\\' pasti punya kenangan tersendiri.

Beberapa lagu dengan lirik seperti \\\'Elu borju jangan belagu\\\', \\\'Cewek matre ke laut aja\\\', \\\'Tidit-tidit pagerku berbunyi\\\' dan lainnya dalam album itu akan kembali dirangkum dalam sebuah film dokumenter \\\'Black Book\\\'.

Film ini sekaligus menggambarkan bagaimana perjalanan budaya hip-hop di beberapa kota besar di Indonesia dengan beragam lini di dalamnya.

\\\'Black Book\\\' diluncurkan sekaligus diputar perdana di Kantor Kontras, Jakarta kemarin malam (11\/10\/2013). Acara tersebut juga dimeriahkan dengan diskusi bersama Iwa K dan pembuat filmnya, Herman Panca dan Ferry Yuniardo.

Bagi mereka yang pernah merasakan era emas hip-hop lokal, Blackbook pun bak bernostalgia. \\\"Anak-anak sekarang mungkin pada enggak tahu, tapi saya sempat merasakan era itu. Jadi menonton bisa ketawa-ketawa ingat lagu-lagunya,\\\" kata Alex salah seorang pengunjung acara.

Iwa K, musisi hip-hop kondang punya kesan tersendiri akan masa hip-hop lokal berjaya. \\\"Bagi gue hip-hop itu pengalaman natural saat lo jalanin hidup loe. Kalau loe enggak punya itu, loe enggak hip-hop,\\\" ujarnya.

Pria bernama lengkap Iwa Kusuma ini juga menuturkan bahwa saat awal tertarik dengan aliran musik ini, ia mengenal rap dulu. \\\"Jadi tahu sub-nya dulu, dari situ mulai nyari akarnya. Tahu hip-hop sebagai budaya itu sekitar tahun 1995, baru tahu bahwa di dalamnya ada grafiti, b-boy, DJ.\\\"




Ferry Yuniardo dari grup musik Sweet Martabak, yang malam itu ikut menjadi pembicara dalam diskusi, menjelaskan bahwa ada empat elemen di dalam hip-hop, yakni rapper, grafiti, B-Boys, dan DJ.

Hal ini diamini oleh Rapper kawakan Iwa K. Baginya, hip-hop itu merupakan salah satu sarana untuk menceritakan penderitaan yang kita rasakan. Baik lewat lirik, coretan di tembok atau gerakan tari. \\\'\\\"Ini menceritakan penderitaan yang kita rasakan, tapi bisa juga menyampaikan penderitaan orang lain lewat kacamata kita,\\\" kata Iwa K.

\\\"Itu yang membuat hip-hop kaya, banyak sekali karakter, movement-nya banyak dan ini menggelinding terus. Tiap orang makin ketemu karakternya masing-masing untuk menyampaikan penderitaan mereka. Buat gue itulah movement.\\\"

Ia juga mencontohkan Bondan Prakoso yang membawa aliran musik hip-hop keroncong, menurutnya kita tak boleh melabelkan ini bukan hip-hop yang seharusnya. Karena ia justru mampu mencampurkan unsur budaya kita dengan hip-hop yang berasal dari barat.

\\\"Spirit itu artinya sudah ada disini, seperti cara bertutur di pantun. Gimana artinya kita membuat budaya bisa saling ngobrol dan dituangkan dalam suatu karya,\\\" katanya menjelaskan.

Dalam penuturannya, ia juga menjelaskan bahwa pendiri-pendiri hip-hop di barat itu punya semangat dan keberanian untuk bisa mencampurkan semua unsur yang ada menjadi sebuah produk dan sebuah pergerakan.

Menurut Iwa, setiap produk budaya pasti niat awalnya untuk memanusiakan manusia. Ini seperti apa yang juga terjadi pada musik jazz dan blues. Namun, bagaimana jalannya akan sangat bergantung oleh pelakunya sendiri.

\\\"Yang jelas gue musisi bukan tiranis. Orang mau enggak suka sama karya gue terserah. Gue seperti kereta api, gue jalan di trek gue, tapi kalau ada yang menghalangi trek gue, ya, gue tabrak.\\\"




Dalam perjalanan karirnya Iwa, 42 tahun, merasa yang paling membanggakan adalah ketika berduet dengan almarhum Benyamin. S. Tak heran jika kemudian sosok legenda Betawi itu jadi sumber inspirasinya. Iwa sempat manggung bersama alm. Benyamin.S tepat seminggu sebelum aktor dan penyanyi itu wafat.

\\\"Untuk urusan freestyle, gue dengar dari beberapa cerita. Dia mau rekaman, terus bisa tiba-tiba lirik dibuang dan dia melakukan improvisasi dan itu enggak jelek,\\\" kata Iwa. Akhir-akhir ini Iwa yang disebut-sebut sebagai pelopor musik rap di Indonesia ini, juga sibuk mengisi beberapa forum diskusi soal spirit dalam kebudayaan hip-hop.

Film terbarunya yang berjudul \\\'King of Rock City\\\' juga akan segera rilis di bioskop pada November mendatang. Dalam film ini ia akan beradu akting dengan rekan sesama pecinta hip-hop seperti Sania dan Saykoji.

(ass/utw)
Photo Gallery
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed