Seputar Kontroversi soal Nama Jeno NCT yang Dipakai di Serial TV Indonesia

Annisa Aninditha Pricilla - detikHot
Rabu, 01 Des 2021 17:50 WIB
Jakarta -

Baru-baru ini, nama Jeno NCT tengah ramai menjadi perbincangan banyak orang di berbagai media sosial, terutama Twitter. Hal ini lantaran banyak penggemar yang mengecam serial TV Indonesia Dikta dan Hukum karena menggunakan nama Jeno tanpa izin dari artis dan agensinya, SM Entertainment.

Serial Dikta dan Hukum sendiri merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama dan awalnya terkenal sebagai AU (alternate universe). Bahkan, permasalahan ini telah diketahui oleh penggemar internasional dan disorot media asing.

Berikut sederet fakta seputar kontroversi serial Dikta dan Hukum yang menggunakan nama Jeno NCT. Yuk, simak!

1. Serial Dikta dan Hukum Gunakan Nama Jeno NCT

[Gambas:Instagram]

Masalah pertama kali muncul saat pihak produksi serial Dikta dan Hukum memperkenalkan karakter para pemeran utamanya. Di antara mereka terdapat salah satu karakter yang bernama Jeno.

Sebelumnya, serial ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama yang terkenal sebagai AU (alternate universe). Di dalam AU tersebut penulis menampilkan beberapa member NCT, salah satunya Doyoung.

Akan tetapi, nama Doyoung diganti oleh penulis menjadi Dikta. Sedangkan, nama Jeno tidak diubah sampai menjadi serial TV.

2. Dikecam dan Dianggap Langgar Hak Cipta

Para NCTzen yang mengetahui pun mengecam dan menganggap penggunaan nama Jeno dalam serial TV tersebut ilegal. Selain itu, penggemar juga beragumen bahwa nama Jeno bukan hanya sekedar nama pribadi, tapi juga namanya sebagai seorang seniman.

Para penggemar khawatir dengan penggunaan nama Jeno dalam serial tersebut akan membuat orang mengenal Jeno sebagai karakter fiksi bukan sebagai member NCT.

3. Disorot Media Asing

Setelah menjadi trending topic di Indonesia, salah satu media asing populer, Koreaboo juga turut memberitakan permasalahan ini. Media tersebut memang sudah terkenal di kalangan penggemar K-pop di seluruh dunia.

Dengan disorot oleh media asing, mungkin saja pihak agensi dan Jeno telah mengetahui permasalahan tersebut.

4. Permintaan Maaf dari Penulis dan Penerbit Buku

Sang penulis novel, Dhia'an Farah dan penerbit buku Dikta dan Hukum, Loveable Group pun merilis permintaan maaf di akun Twitter resmi mereka. Dalam pernyataan tersebut, mereka meminta maaf dengan munculnya kontroversi saat ini.

"Penerbit dan penulis meminta maaf atas ketidaknyamanan ini, karena kami tidak bisa membuat pernyataan tanpa seizin pihak yang sudah mengadaptasi buku Dikta & Hukum ini ke sinematografi, maka kami butuh waktu untuk solusinya," ungkap penulis dan penerbit.

(dal/dal)